#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Hati-Hati, Perilaku Tidak Sehat Pada Bisnis Hewan Kurban

DIOLUHTAN. Bagi para peternak, momen Idul Adha, adalah saat yang ditunggu-tunggu dan telah dipersiapkan sejak lama. Pada momen ini , peternak sapi dapat memperoleh keuntungan lebih besar ketimbang hari-hari biasa.
Tanpa perlu dipelihara secara intensif (untuk menaikkan berat badannya),  peternak sapi sudah bisa mendapatkan keuntungan dari selisih harga pembelian dan penjualan. Keuntungan yang cukup besar ini akhirnya menarik banyak pihak untuk terjun di bisnis Sapi Kurban, termasuk para penjual sapi kurban dadakan, baik perorangan maupun pemodal besar.
Jika dilihat dari sisi moral, tingginya keuntungan dalam bisnis hewan kurban, sesungguhnya tidaklah fair karena  harga yang dibayarkan konsumen tidak sesuai dengan kualitas hewan yang didapat.
Hal itu bisa terjadi karena transaksi hewan kurban tidak transparan, penyebabnya adalah :
  • Para pembeli hewan kurban umumnya  adalah orang-orang mampu, yang telah memiliki niat serta memiliki dana yang cukup, tetapi sebagian besar dari mereka tidak memiliki pengetahuan tentang ternak sapi. Oleh sebab itu, mereka cenderung melakukan transaksi dengan tingkat emosional yang sangat tinggi (panic buying), dalam bahasa sehari-hari, orang menyebutnya "membeli karena senang".
  • Posisi tawar konsumen Sapi Kurban sangat lemah karena secara psikologis mereka sudah pasti membeli hewan (tidak mungkin menangguhkannya hingga tahun depan). Jika tidak jadi membeli, mereka merasa akan mendapat kesulitan untuk mencari hewan kurban dengan kondisi dan kualitas yang dikehendaki. Atau jika harga hewan kurban tidak terjangkau dengan dana yang tersedia, maka mereka akan tetap membeli, dengan  mengalihkannya ke hewan kurban yang lebih kecil/murah

Perilaku inilah yang dimanfaatkan “penikmat bebas” yaitu para pedagang perantara sapi kurban untuk meraup keuntungan yang tinggi. Para pedagang ini seolah-olah adalah “dewa penolong” yang dapat memberikan solusi atas permasalahan termasuk memberikan pelayanan yang memanjakan konsumen. Bukan saja kepada konsumen, para pedagang perantara ini juga memanfaatkan para peternak (produsen), dengan memberikan imbalan lebih kepada peternak untuk mendapatkan kepastian pasokan di pasar

Di Indonesia, semakin hari, bisnis sapi  kurban semakin berkembang menjadi industri besar , bahkan beberapa diantaranya  dikelola dengan jaringan usaha skala nasional dan lembaga profesional. Walaupun  sebenarnya para pelaku bisnis ini mengetahui bisnis sapi kurban tanpa transparansi adalah bisnis yang tidak sehat.
Perhatian pemerintah pada sektor peternakan menjelang hari raya Idul Adha memang agak berbeda dengan  saat menghadapi Idul Fitri. Di hari raya Idul Fitri, pemerintah sibuk melakukan berbagai upaya, agar harga daging sapi tidak naik. Sebab, kenaikan harga daging sapi  disinyalir akan turut memicu inflasi, yang pada akhirnya turut pula mengganggu perekonomian nasional.
Padahal jika melihat harga sapi pada saat Idul Adha, kenaikannya cukup besar. Jika pada saat Idul Fitri kenaikan harga sapi mencapai 15%, pada saat idul Adha kenaikannya bisa mencapai 25%. Belum lagi jika transaksinya diterapkan dengan beli “membeli karena senang", kenaikannya akan lebih besar.
Dampak ekonomi di hari raya kurban memang berbeda dengan Idul Fitri. Pada saat hari raya kurban, pembeli sapi adalah orang yang mampu dan memiliki dana. Setelah disembelih, dagingnya didistribusikan kepada orang yang tidak mampu. Jadi, tidak ada upaya “memaksa” rumah tangga konsumen untuk mengeluarkan sejumlah dana bagi kegiatan konsumtif.  Adapun di pasar Idul Fitri, keadaannya berkebalikan, seolah ada pemaksaan rumah tangga untuk mengonsumsi daging. Akibatnya, pembelian terjadi dengan tingkat emosional tinggi.
Untuk meningkatkan produktifitas dan iklim usaha peternakan yang kondusif, bisnis hewan kurban sudah selayaknya dibenahi. Yang paling utama asalah menciptakan transparansi serta pemerataan dan keadilan dalam perolehan keutungan usaha sesuai dengan risiko yang dihadapi para pelaku bisnis tersebut, dengan cara :
  • Sosialisasi atau penjelasan tentang hewan kurban dengan segala implikasinya, agar konsumen paham paham bahwa harga yang dibayarkan sesuai dengan kualitas hewan yang dibelinya.
  • Meningkatkan pengetahuan konsumen dalam hal transaksi jual beli, agar menjadi normatif dan tidak terjadi panic buying. Dampaknya, harga yang terbentuk pun akan mengikuti norma bisnis yang berlaku. Hal yang paling sederhana yang dapat dilakukan adalah transaksi pembelian didasarkan pada timbangan berat badan dengan disaksikan pihak-pihak terkait, bukannya dengan cara taksir seperti yang berlaku saat ini.

Pada pelaksanaannya, masalah yang dihadapi pedagang sapi Kurban adalah tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Pada kondisi inilah peran pemerintah diperlukan untuk menyediakan timbangan ternak di pusat-pusat penjualan hewan kurban. Untuk itu, pemerintah harus mengumumkan sentra penjualan ternak dengan standar operasi dan prosedur yang wajib diikuti pedagang hewan kurban.
Selanjutnya, pemerintah, badan-badan usaha swasta, dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bisnis ini segera menyebarluaskan tata cara pembelian dan pengolahan daging kurban. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat Muslim dapat melaksanakan kewajibannya dengan mudah,  murah dan mendapatkan manfaat yang lebih besar dari pelaksanaan pemotongan hewan kurban.

Sumber : megapolitan.kompas.com
Editor : Y. A. Yahya
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment