#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Lebah Madu : Klasifikasi, Habitat, Koloni dan Hasil Produksinya

Lebah Madu - Kita tentu tidak asing dengan madu. Bahan makanan yang bersumber dari alam ini telah lama digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Madu merupakan salah satu bahan makanan yang istimewa. Madu tidak sekadar untuk pemanis makanan atau minuman, tetapi lebih dari itu madu dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit.
Madu umumnya memiliki rasa manis, nilai gizinya tinggi, dan sangat berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Setiap orang dapat mengonsumsi madu, baik anak-anak, orang dewasa, maupun manula. Karena khasiatnya yang tinggi ini, banyak bahan makanan atau minuman lain yang dicampur dengan madu untuk meningkatkan khasiat makanan atau minuman tersebut. Penggunaan madu juga tidak terbatas sebagai bahan pangan, tetapi dapat digunakan untuk tujuan lainnya. Sejak zaman dahulu, madu telah digunakan sebagai obat tradisional. Madu juga sering digunakan untuk perawatan tubuh dan kecantikan.

Penggunaan madu telah dimulai sejak zaman purba. Pada saat itu, madu merupakan satu-satunya jenis gula atau bahan pemanis yang telah diketahui, disamping berfungsi sebagai obat. Pada zaman Firaun, madu telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Mesir Kuno sebagai minuman yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti sesak napas dan demam. Pada saat itu madu telah diketahui memiliki kekuatan dalam melawan kuman. Karena itu, bangsa Mesir Kuno menggunakan madu sebagai bahan pengawet mayat atau mumi. Sebagai obat luar, bangsa Mesir Kuno menjadikan madu sebagai ramuan bagi orang yang terkena cramp (kejang). Madu dicampur dengan lilin lebah, biji-bijian, dan garam laut kemudian dioleskan di bagian tubuh yang kejang.
Beberapa catatan pada peninggalan Mesir Kuno menunjukkan bahwa pada tahun 1553-1550 sebelum masehi, madu telah diresepkan untuk mengobati luka, merangsang pengeluaran kemih, dan mengobati sakit perut. Setidaknya pada saat itu bangsa Mesh Kuno telah membuat lebih dari 900 resep pengobatan, dan 500 di antaranya dibuat dengan bahan dasar madu. Selain itu bangsa Asiria, Cina, Yunani, dan Roma juga telah lama meresepkan madu. Mereka menggunakan madu untuk pengobatan luka bakar. Istilah mandi madu telah dikenal sejak dahulu. Ratu Cleopatra menggunakan madu untuk merawat kecantikan wajah dan kehalusan kulitnya. Cleopatra juga menggunakan madu untuk meningkatkan stamina dan vitalitasnya.
A. Klasifikasi Lebah Madu
Lebah madu merupakan serangga yang berperan dalam menghasilkan madu. Serangga ini mengubah nektar yang dihasilkan tanaman menjadi madu. Selanjutnya madu akan disimpan dalam sarang lebah.
Dalam dunia hewan (kingdom Animalia), lebah madu termasuk dalam phylum Arthoproda, kelas Insecta (serangga), ordo Hymenoptera, famili Apidae, dan genus Apis. Lebah madu terdiri dari beberapa jenis di antaranya lebah hutan (Apis dorsata), lebah australia (Apis mellifera), Apis florea, Tawon Madu (Apis cerana), dan lebah lokal (Apis indica). Di negara-negara Asia seperti Jepang, India, dan Korea dapat ditemukan lebah oriental (Apis cerana). Ukuran lebah ada yang kecil misalnya Apis florea dan ada yang besar seperti Apis laboriosa yang dapat dijumpai di daerah pegunungan Himalaya.


Lebah madu ada yang memiliki sengat dan ada juga yang tidak. Lebah madu yang tidak memiliki sengat disebut stingless honeybee dan genusnya antara lain Trigona dan Melipona. Trigona dapat ditemukan di banyak negara tropis seperti Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Genus Trigona juga dapat ditemukan di Australia. Trigona menghasilkan madu yang rasanya asam. Orang Jawa menyebutnya madu lanceng, sedangkan orang Sunda menyebutnya teuweul.
Sejak dahulu, Trigona telah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Jenis lebah madu yang banyak dikenal di Jawa adalah Apis indica (Sunda = nyiruan, Jawa = tawon), Apis dorsata (Sunda = odeng, Jawa = tawon gung), danTrigona sp. (Sunda = teuweul, Jawa = lanceng). Namun, tingkat produksi madu ketiga jenis lebah ini berbeda. Peternak lebah umumnya menggunakan lebah unggul yang didatangkan dari Australia yaitu Apis mellifera var. Ligustica SPIN. Lebah madu ini berasal dari Benua Eropa dan lebih dikenal dengan nama lebah italia. Produksi madu dari lebah madu ini cukup tinggi.
Apis dorsata merupakan salah satu jenis lebah madu yang sulit untuk dibudidayakan karena keagresifan dan keganasannya. Apis dorsata memiliki ukuran tubuh paling besar dibandingkan dengan lebah madu jenis lainnya. Jenis lebah madu ini hidup di hutan-hutan dengan koloni bergelantungan pada pohon yang tinggi. Dalam satu pohon bisa ditemukan banyak koloni lebah madu ini hingga mencapai puluhan. Di beberapa daerah di Indonesia, koloni lebah madu Apis dorsata dilindungi oleh hukum adat masyarakat setempat. Di Riau misalnya, jika ada orang yang menebang pohon sialang tempat koloni lebah madu ini bersarang, orang tersebut bisa terkena denda hingga jutaan rupiah.
Jenis Lebah Madu
Beberapa jenis lebah penghasil madu dapat dikelompokkan menjadi lima species, yakni Apis dorsata (Lebah Hutan/Tawon Gung), Apis florea (Tawon Klanceng), Apis cerana (Tawon Madu), Apis mellifera (Lebah Australia/Lebah Unggul), dan Apis indica (Lebah Lokal).
Lebah Madu Apis dorsata (Lebah Hutan/Tawon Gung)
Apis dorsata hidup berkoloni, diperkirakan terdapat 100.000 koloni yang tersebar di wilayah Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Timor Timur.
Sarang lebah terletak menggantung pada dahan pohon yang tinggi di hutan primer maupun hutan sekunder. Lebah jenis ini juga merupakan penghasil madu yang cukup potensial. Suatu penelitian di Sulawesi menunjukkan bahwa produktivitas madu mencapai puncaknya pada saat berbunganya pohon Eucalyptus yang hampir mendominasi kawasan hutan di seluruh Sulawesi.
Sarang lebah madu Apis dorsata berbentuk tunggal dan bisa mencapai ukuran seluas 1 m². Beberapa jenis pohon yang sering dihuni oleh lebah hutan Apis dorsata, di antaranya pohon kempas, rengas, pudak air, angsana, dan randu hutan.
Lebah Madu Apis florea (Tawon Klanceng)
Lebah Apis florea berukuran kecil, biasanya hidup pada lubang-lubang kayu atau di antara dinding bambu. Lebah ini dapat menghasilkan madu, tetapi tidak pernah dipelihara manusia.
Lebah Madu Apis indica (Lebah Lokal)
Lebah Madu Apis indica (Sunda = nyiruan, Jawa = tawon) merupakan jenis lebah yang paling banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Produksi madu dari lebah ini tidak sebanyak lebah unggul.
Lebah Madu Apis cerana (Tawon Madu)
Sejak lama masyarakat di Jawa dan Bali terbiasa membudidayakan lebah lokal Apis cerana secara tradisional dengan menggunakan gelodok, terutama di daerah pedesaan yang banyak pohon kelapanya. Di Indonesia, populasi lebah madu Apis cerana mencapai lebih dari 60.000 koloni dan setiap koloni mampu menghasilkan madu sebanyak 20 kg madu/koloni/tahun.
Lebah Madu Apis mellifera (Lebah Unggul, Lebah Australia)
Apis mellifera merupakan lebah jenis unggul yang berasal dari Eropa dan Australia yang kini sedang dikembangkan pembudidayaannya. Keistimewaan lebah ini di antaranya mampu beradaptasi dengan agroklimat Indonesia, dapat menghasilkan madu 40 kg koloni/ tahun, dan kualitas madunya lebih baik. Pada saat ini lebah Apis mellifera diperkirakan telah mencapai 40.000 koloni. Budi Jaya lebah unggul ini biasanya dilakukan pada bunga kopi, kelengkeng, kapuk randu, karet, dan sengon.

B. Habitat dan Koloni Lebah Madu
Salah satu syarat hidup lebah madu adalah adanya tanaman. Secara umum lebah madu bisa hidup di seluruh belahan bumi, kecuali di daerah kutub. Hal ini disebabkan di daerah kutub tidak ada tanaman yang menjadi sumber pakan lebah madu. Di daerah tropis lebah madu dapat berkembangbiak dengan baik dan produktif sepanjang tahun karena tumbuhan sebagai sumber pakan tersedia terus. Di daerah subtropis lebah madu tidak, produktif pada musim dingin.
Di alam bebas lebah madu tinggal di gua-gua dalam hutan termasuk di tebing-tebingnya. Di hutan, koloni lebah madu juga tinggal di pohon-pohon yang berlubang. Sementara itu, di peternakan, lebah madu tinggal di dalam kotak (stop) yang terbuat dari kayu dan suasananya nyaman untuk ditempati lebah. Lokasi peternakan lebah madu harus dekat dengan tanaman sumber pakan seperti perkebunan atau hutan. Tujuannya agar produktivitas lebih tinggi karena terpenuhinya kebutuhan pakan. Para peternak lebah madu sering berpindah tempat mengikuti musim berbunga tanaman. Setelah masa berbunga tanaman di suatu daerah selesai, peternak akan pindah ke daerah lain yang tanamannya sedang berbunga.
Lebah madu adalah serangga yang unik karena mereka termasuk makhluk sosial. Biasanya, serangga merupakan makhluk soliter yang hidup menyendiri. Masyarakat lebah madu terdiri atas tiga bagian yaitu ratu lebah (queen), lebah jantan (drone), dan lebah pekerja (worker-bees). Selayaknya pada kerajaan manusia, keberadaan ratu sangat istimewa. Ratu ini berjenis kelamin betina, dan tugasnya kawin serta bertelur. Ukuran ratu paling besar, panjang badannya hampir dua kali dan beratnya hampir tiga kali lebah pekerja. Umur ratu bisa mencapai enam tahun.
Tugas utama lebah jantan adalah mengawini ratu. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada lebah pekerja tetapi lebih kecil daripada ratu. Umurnya mencapai tiga bulan. Jumlah lebah jantan dalam satu koloni sekitar puluhan sampai ratusan ekor.
Lebah pekerja adalah lebah yang alat reproduksinya tidak berkembang sempurna. Tugas lebah pekerja adalah mencari makanan dan melaksanakan semua pekerjaan kecuali bereproduksi. Di dalam sarang, tugas lebah pekerja adalah memberi makan larva di ruang eraman yang terbuat dari lilin. Selain itu, juga bertugas memberi makanan khusus (royal jelly) kepada larva ratu (calon ratu) di dalam ruang ratu, serta memberi makan ratu. Jumlah lebah pekerja dalam satu koloni bisa mencapai 30.000-40.000 ekor. Umurnya hanya 35 hari.
Dalam kehidupannya, lebah pekerja mempunyai dua fase tugas. Fase pertama adalah bekerja dalam sarang hingga separuh umurnya. Fase kedua bertugas di luar sarang termasuk mencari pakan.
Perbedaan umur yang signifikan antara ratu, lebah jantan, dan pekerja salah satunya karena faktor makanan. Selain makan madu dan polen, sang ratu makan royal jelly sebanyak 2-3 kali sehari sejak masih berbentuk larva. Royal jelly membuat ratu kuat dan bisa mendukung tugasnya untuk bertelur. Sementara itu, lebah jantan dan lebah pekerja hanya makan royal jelly ketika masih berbentuk larva hingga berumur 1-2 hari. Selanjutnya, mereka hanya makan madu dan polen.
Ukuran tubuh ratu yang lebih besar juga dipengaruhi oleh ukuran tempat tinggalnya. Larva ratu dibesarkan di dalam sel khusus yang lebih besar, luas, dan panjang dibandingkan dengan sel biasa. Bentuk selnya lonjong dan memanjang menyerupai kulit kacang serta letaknya di pinggiran di bawah sisiran.
Ratu dan lebah pekerja memiliki alat penyengat, sedangkan lebah jantan tidak. Alat penyengat berfungsi untuk melindungi diri dan koloninya dari berbagai gangguan. Contohnya, jika ada tikus masuk ke tempat tinggalnya, tikus tersebut akan disengat sampai mati. Sengatan banyak lebah jenis tertentu bisa menyebabkan seekor anjing mati. Namun, setelah menyengat lebah pekerja itu akan mati karena alat sengatnya terputus. Ratu juga bisa menyengat berulang kali tetapi tidak mengalami kematian. Ratu sangat jarang menggunakan sengatnya bahkan ketika diganggu sekali pun.
Pada musim kawin, sang ratu akan terbang ke udara yang diiringi oleh para lebah jantan. Perkawinan terjadi ketika udara cerah. Jika ratu merasa jantannya kurang, dia akan mencari lebah jantan lain. Satu kali perkawinan bisa melibatkan 30 ekor lebah jantan. Sesudah perkawinan, lebah jantan akan mati karena kantong sperma terpisah dan tertinggal dalam kantong sperma ratu yang disebut spermatheca. Spermatheca merupakan tempat menyimpan sperma lebah jantan hasil perkawinan. Kemudian sang ratu akan pulang ke sarangnya. Sejak itu ratu akan bertelur setiap hari hingga simpanan sperma yang ada habis. Satu ratu bisa bertelur sebanyak 3.000 butir setiap hari. Jenis kelamin dari telur ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya ruangan, makanan, tingkah laku ratu, dan iklim.
Dalam satu koloni lebah madu hanya terdapat satu ratu. Jika ada larva calon ratu baru, larva tersebut akan di-matikan oleh ratu. Jika ada yang sempat lahir, ratu yang lama akan bertarung dengan ratu baru hingga salah satunya mati atau ratu yang kalah akan meninggalkan sarangnya diikuti oleh sebagian lebah pekerja yang setia. Biasanya ratu yang hijrah adalah ratu tua. Ratu ini akan membentuk koloni baru. Selain itu, ratu tua yang tidak produktif akan dimatikan oleh lebah pekerja dan akan diangkat ratu baru. 
Satu koloni lebah madu bisa berpindah tempat dengan tujuan mencari sumber pakan baru karena di tempat yang lama sumber pakan dan air semakin berkurang. Pindah sarang juga bisa disebabkan karena sarang terlalu papas, terkena gangguan penyakit, atau ada pengganggu (pemangsa) terus-menerus.
Sarang lebah tersusun dari jajaran sel heksagonal yang merupakan tempat bertelur serta menyimpan madu dan tepung sari bunga yang dikumpulkan. Bentuk ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan bentuk bulat atau persegi. Bentuk heksagonal membutuhkan bahan yang relatif sedikit, tetapi memiliki kapasitas sebagai tempat penyimpanan yang maksimal. Jika sarang bentuknya bulat, tentu ada ruangan yang tidak terpakai. Jika bentuknya persegi empat, pemakaian bahan menjadi lebih banyak.
Sarang dijaga oleh lebah penjaga. Jika ada penggangu seperti tikus, lebah pencuri madu, atau lebah asing yang akan masuk ke pintu sarang, lebah penjaga akan menyerangnya. Lebah penjaga adalah lebah pekerja yang bertugas menjaga koloni dari pengganggu. Kebersihan sarang akan selalu dijaga oleh lebah pekerja. Jika larva menetas menjadi lebah, sarangnya akan segera dibersihkan oleh lebah pekerja.
Dalam mencari sumber pakan, lebah pekerja bisa terbang dengan radius 2-6 km. Hormon feromon yang dikeluarkan oleh ratu akan menimbulkan bau yang dijadikan panduan oleh lebah pekerja untuk pulang, sehingga tidak tersesat. Lebah pekerja baru bisa tersesat jika ada angin ribut atau badai.
C. Hasil Lebah Produksi Lebah Madu
Banyak manfaat yang bisa diambil dari lebah madu. Selain menghasilkan madu, lebah juga menghasilkan beberapa produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Produk lebah tersebut di antaranya royal jelly, tepung sari (polen), lem lebah (propolis), malam lebah (beeswax), dan racun lebah (beevenom). Di samping itu, lebah juga sangat berguna dalam proses polinasi (penyerbukan) berbagai jenis tanaman. Bahkan, banyak tanaman yang tidak bisa melakukan penyerbukan sendiri dapat dibantu oleh lebah, sehingga fungsi lebah sangat penting sebagai pelestari tanaman.
a. Madu
Madu merupakan produk lebah yang memiliki nilai ekoiiomi tinggi dan paling banyak ditemukan di pasaran. Manfaat madu di antaranya untuk pengobatan, pemeliharaan kesehatan, bahan pengawet alami, serta bahan pemanis makanan dan minuman.
Dari zaman dulu, madu merupakan makanan yang sangat digemari dan digunakan sebagai obat. Ditemukan lukisan-lukisan dalam piramida di Mesir yang menggambarkan penggunaan madu sebagai makanan dan obat-obatan. Juga di dalam koleksi George Eber yang dilukis 3.500 tahun yang lalu dalam satu jenis rumput menerangkan bahwa madu bisa digunakan untuk mengobati luka-luka, merangsang urinasi, dan mempermudah pengeluaran isi perut.
b. Malam Lebah
Malam lebah adalah lilin yang paling baik dan harganya paling mahal. Lilin lebah dihasilkan oleh lebah pekerja. Lilin lebah dulu banyak dipakai untuk memumikan mayat dan membuat cairan pembakar suluh pada zaman Mesir Kuno. Di Indonesia, malam lebah lanceng (Trigona) digunakan untuk membuat batik tulis.
Sarang lebah dibuat dari malam lebah dengan bahan dasar madu. Di bagian samping bawah perut lebah pekerja terdapat empat pasang kelenjar yang menghasilkan malam lebah. Malam tidak dikumpulkan dari bunga, tetapi dibuat dari madu dalam kelenjar tersebut. Untuk membuat satu kilogram malam, lebah bisa menghabiskan madu sebanyak 7-15 kg. Kegunaan malam lebah adalah untuk bahan dasar kosmetika, pembuatan lilin, dan industri perlebahan. Contohnya, malam lebah digunakan untuk membuat salep, lotion, lipstik, pelapis pil, perekat, krayon, permen, dan tinta.
c. Polen atau Tepung Sari
Polen atau tepung sari bunga adalah alat reproduksi jantan pada tumbuhan. Kandungan proteinnya tinggi, bahkan kadar proteinnya paling tinggi di antara jenis makanan lainnya. Bagi lebah, polen berfungsi sebagai bahan pembentuk, pertumbuhan, dan penggantian sel yang rusak. Jika berlebihan polen akan disimpan dalam sarang dan akan digunakan ketika polen langka di lapangan.
Polen sangat penting karena merupakan sumber gizi utama lebah madu, selain air, dan karbohidrat, di dalam polen terdapat vitamin A, B, C, D, dan E. Selain itu, polen juga mengandung asam amino seperti prolene, asam glutamat, dan asam aspartat. Kadar protein polen yang disimpan dalam sarang juga cukup tinggi. Secara garis besar polen adalah sumber protein. Sedangkan nektar merupakan sumber karbohidrat bagi lebah. Polen yang digunakan dalam pengobatan sudah ada yang berbentuk tablet.
d. Royal Jelly
Produk lebah madu yang memiliki nilai ekonomi paling tinggi adalah royal jelly (susu ratu). Royal jelly adalah cairan berupa jeli atau krim atau susu yang disekresikan oleh lebah pekerja muda dari bahan baku madu dan polen yang digunakan lebah sebagai makanan khusus bagi larva calon ratu lebah dan lebah pekerja. Royal jelly berwarna putih kental dan rasanya asam. Royal jelly digunakan untuk makanan larva lebah dan ratu lebah sepanjang hidupnya. Satu kilogram royal jelly harganya mencapai 1,5 juta rupiah. Harga ini sangat mahal jika dibandingkan dengan satu kilogram madu yang harganya sekitar 50 ribu rupiah. Pemanfaatan royal jelly masih terbatas pada masyarakat menengah ke atas.
Kandungan yang terdapat dalam royal jelly di antaranya protein, lemak, glukosa, fruktosa, vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, mineral, dan asam amino esensial. Di masyarakat, royal jelly digunakan untuk pengobatan, di antaranya untuk mengobati penyakit kulit seperti eksim, kulit kasar, dan radang kulit. Selain itu, royal jelly digunakan untuk menambah selera makan, menambah daya ingat, mengobati diabetes, untuk kecantikan, dan mengatasi kemandulan. Pada orang yang luka, royall jelly bisa mempercepat proses penyembuhan dan membantu proses pembentukan sel-sel tubuh.
e. Racun Lebah (Beevenom)
Racun lebah adalah racun yang dibuat oleh lebah pekerja. Racun ini berbentuk cairan bening dan cepat mengering. Manfaatnya untuk mengobati penyakit seperti kencing manis, arthritis, rematik, pegal-pegal, sakit kepala, sakit gigi, nyeri punggung, migrain, asam urat, susah tidur, dan impotensi.
Di Cina, sengatan lebah sering digunakan bersama pengobatan akupuntur. Pemakaian racun lebah sebagai obat harus hati-hati karena tidak dapat diberikan kepada orang yang memiliki penyakit tertentu seperti penyakit jantung dan alergi (hipersensitif). Karena itu, penggunaan racun lebah harus atas indikasi yang tepat. Istilah populer untuk pengobatan yang menggunakan racun lebah adalah BVT (bee venom therapy).
Racun lebah mengandung sekurang-kuranganya 18 senyawa aktif. Senyawa tersebut di antaranya apamine, melittine, phospholipase, hyaluronidase, adolapin, histamin, dopamine, norepinefrine, dan serato seratonin.
f. Lem Lebah (Propolis)
Lem lebah dibuat dari getah yang dikumpulkan lebah pekerja dari pucuk-pucuk pohon tertentu. Selanjutnya, getah ini diproses dalam mulut lebah sehingga menghasilkan lem.
Lem ini dipakai untuk meletakkan dan merekatkan gumpalan-gumpalan lilin yang akan menyempitkan lubang sarang. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada musim dingin dengan tujuan untuk lebih melindungi dan menghangatkan sarang.

Lem lebah memiliki khasiat untuk menurunkan tekanan darah tinggi, memperlancar air seni, antibakteri, antivirus, dan antitumor. Susunan kimia bahan ini sangat kompleks, antara lain mengandung zat aromatik, zat wangi, flavon, dan berbagai mineral. Propolis banyak digunakan dalam industri farmasi sebagai obat luka, campuran odol, dan sebagai bahan antivirus.
Disarikan dari Berbagai Sumber
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment