Tidak ada yang lebih penting dalam pergaulan umat manusia di dunia ini selain komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan suatu pikiran, gagasan atau ide, atau pesan dari seseorang kepada orang lain. Kita berkewajiban untuk mengupayakan segala cara untuk menggunakan semua alat yang ada agar penyuluhan menjadi efektif. media penyuluhan ini adalah salahsatu media visual yang memaparkan penyuluhan pada komoditi bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.

Mengetahui Berat Tubuh Sapi Potong

Untuk meningkatkan produksi pada ternak sapi potong, peternak harus dapat menaksir jumlah dan kualitas daging yang akan dihasilkan (grading).

Variabel yang diukur dalam grading ternak sapi potong adalah :
1.Skor Kerangka (frame score), digunakan untuk memperkirakan bobot hidup pada saat sapi pedaging mencapai dewasa, yang dihitung pada saat tebal lemak punggung pada rusuk ke 12 = 0,2 inchi dan lambung terisi secara wajar. Frame score dinilai dengan ukuran : Besar (large), Sedang (medium), dan Kecil (small) sesuai dengan capaian bobot hidup saat ternak tersebut mencapai dewasa.
2.Skor Otot, menggambarkan ketebalan perototan pada tubuh sapi. USDA menstandarisasi skor otot pada ternak sapi ke dalam 4 skor, yaitu 1,2,3 dan 4. Skor 1 diberikan pada sapi dengan perototan paling tabal  dan skor 4 diberikan kepada sapi dengan perototan paling tipis.
3.Skor Kondisi Tubuh (Body Condition Score),  menggambarkan tingkat perlemakan/kegemukan dengan kisaran angka antara 1 – 9, berdasarkan bentuk dan konformasi tubuh (bukan berdasarkan bobot/berat  hidup). Sapi dengan bobot hidup sama mungkin memiliki BCS yang jauh berbeda. BCS diberikan berdasarkan pada perlemakan pada brisket, iga, punggung, pinggul, tulang duduk, dan pangkal ekor.  BCS pada sapi pedaging yang optimal adalah 5 – 7.
Penilaian ternak sapi  sangat tergantung kepada :  jenis, bangsa dan tipe ternak. Masing-masing jenis, bangsa dan type memiliki karakteristik yang berbeda dalam  hal produksi daging. Sapi Brahman dan Sapi Simental (berbeda bangsa), dengan  berat  hidup yang sama akan menghasilkan jumlah dan kualitas daging yang berbeda. Sama juga halnya dengan sapi potong dan sapi perah.
Sumber : agebb.missouri.edu, beef.unl.edu dan falsterfarm.com
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment