#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Cincau dan Beluntas, Tanaman Lokal Pemacu Imunitas Unggas


DIOLUHTAN-suluhtani. Asal mula ayam adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.
Ayam pedaging adalah ayam sangat efektif untuk menghasilkan daging. Karakteristik ayam pedaging bersifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, kulit putih dan produksi telur rendah. Untuk mendapatkan tingkat pertumbuhan yang tinggi, maka hal utama yang harus diketahui adalah pakan apa yang cocok untuk dikonsumsi oleh ayam pedaging. Selain  masalah pakan, pencegahan penyakit dan kondisi yang dapat membuat ayam stress harus dilakukan untuk memperoleh produksi daging yang berkualitas baik.
Peningkatan produktivitas ayam pedaging dapat dilakukan melalui perbaikan kuantitas dan kualitas pakan yang diberikan dengan sistem pemeliharaan intensif. Pakan berkualitas harus mengandung zat-zat nutrisi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan umur dan tujuan pemeliharaan
Budidaya ternak unggas di negara tropis seperti Indonesia saat ini masih dihadapkan pada masalah klasik, yakni panasnya suhu lingkungan. Suhu yang relatif lebih panas membawa dampak tersendiri bagi kerja fisiologis dari organ tubuh unggas. Maka tak jarang ditemukan ternak yang enggan makan, sehingga kondisi ini dapat berisiko pada mudahnya ternak terjangkiti penyakit (immunosuppression). Berbagai usaha dilakukan seperti pemberian obat anti-stress bagi ternak yang mengalami cekaman panas (heat stress). Namun dari sisi ekonomis, cara ini menambah ongkos produksi. Lantas, adakah solusi alternatif agar produktivitas ternak tetap bisa dipertahankan dalam kondisi lingkungan yang panas.

Yusran A. Yahya, Penyuluh Pertanian Dinas Peternakan Kab. Bone sedang melakukan Pemantauan terhadap Kandang Ayam Pedaging Peternak di wilayahnya.

Menurut Wikipedia.org, Sistem imun atau sistem kekebalan adalah sel-sel dan banyak struktur biologis lainnya yang bertanggung jawab atas imunitas, yaitu pertahanan pada organisme untuk melindungi tubuh dari pengaruh biologis luar dengan mengenali dan membunuh patogen. Sementara itu, respons kolektif dan terkoordinasi dari sistem imun tubuh terhadap pengenalan zat asing disebut respons imun. Agar dapat berfungsi dengan baik, sistem ini akan mengidentifikasi berbagai macam pengaruh biologis luar seperti dari infeksi, bakteri, virus sampai parasit, serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel dan jaringan organisme yang sehat agar tetap berfungsi secara normal.
Genetika Ayam Ras
Perkembangan teknologi untuk meningkatkan mutu genetik unggas terus mengalami kemajuan. Sifat ayam ras yang dahulu memiliki pertumbuhan yang lambat (slow growth) saat ini sudah menjadi ayam ras modern dengan tingkat pertumbuhan yang cepat (fast growth), sehingga umur panen lebih cepat dan efisiensi produksi dapat ditingkatkan. Kondisi ini tentunya membawa keuntungan tersendiri bagi pebisnis perunggasan. Namun, unggulnya ayam modern saat ini tidak diikuti dengan kemampuan genetis dalam menopang daya tahan tubuhnya. Tak heran, jika para peternak seringkali dibuat kelabakan ketika ayamnya tidak mampu beradaptasi dengan panasnya lingkungan dan tak jarang menyebabkan angka mortalitas yang tinggi.
Seperti cekaman panas yang merupakan penyebab immunosupresi akibat suhu lingkungan akan mempengaruhi perubahan metabolisme tubuh. Konsekunsinya, ternak akan menurunkan panas tubuhnya salah satunya dengan cara mengurangi konsumsi pakan. Walaupun demikian, cekaman panas perlu diwaspadai peternak mengingat resiko penurunan produksi dan tingkat kesehatan yang dapat berujung pada mortalitas yang tinggi dan efisiensi produksi tidak tercapai secara maksimal.
Beberapa kasus dapat dilihat seperti penurunan produksi dan imunitas ayam yang mengalami cekaman panas, seperti produksi ayam petelur dapat menurun hingga 40 persen. Demikian pula ancaman kematian ayam juga tinggi jika ayam mengalami cekaman panas karena produksi titer antibodi (kekebalan tubuh) dan sel darah putih jauh dibawah batas normal. Mengingat begitu besar resiko kerugian yang harus ditanggung peternak, diperlukan langkah jitu dalam manajemen budidaya sebagai solusi bagi ancaman tersebut.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh cekaman panas adalah dengan pemberian obat anti-stress tetapi cara ini akan menambah biaya produksi. Selain itu, pemakaian bahan-bahan kimia semakin ditinggalkan karena tuntutan konsumen akan produk pangan asal ternak yang alami (organik). Dengan demikian, perlu dicarikan bahan alternatif yang dapat dijadikan untuk asupan nutrien sekaligus bisa untuk mencegah efek cekaman panas dan mempertahankan imunitas unggas.
Khasiat Beluntas
Penggunaan bahan anti stress untuk mencegah penurunan produksi unggas adalah cara umum dilakukan para peternak. Untuk menekan tambahan biaya produksi, rupanya penggunaan bahan-bahan alami (herbal) akan lebih memberikan keuntungan tambahan. Selain untuk tujuan mengatasi cekaman panas diharapkan pemberian bahan-bahan alami ini juga memberikan efek tambahan dalam meningkatkan sistem imunitas unggas.
Daun Beluntas Pemacu Immunitas Tubuh pada Unggas (Foto: tribunnews.com)

Salah satu tanaman lokal yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah beluntas (Pluchea indica less) yang sekaligus berfungsi sebagai bahan aditif pakan karena mengandung beberapa senyawa aktif alkaloid, minyak atsiri dan flavonoid. Khasiat medis tanaman ini dapat juga digunakan sebagai penurun demam (antipiretik), meningkatkan selera makan (stomakik), peluruh keringat (diaforetik) dan penyegar (Dalimartha, 1999). Selain itu, daun beluntas juga bersifat sebagai antimikroba, untuk menghambat pertumbuhan beberapa mikroba patogen seperti Salmonella typhi, Staphylocococcus aureus, Escherichia coli dan Bacillus cereus (Ardiansyah dkk, 2003), dimana keberadaan bakteri ini dalam saluran pencernaan dapat menurunkan produksi telur dan menghambat pertumbuhan ayam pedaging.
Tak hanya itu, beluntas bermanfaat sebagai bahan imbuhan pakan alternatif untuk meningkatkan ketahanan tubuh unggas dari stress panas (Setiaji & Sudarman, 2003). Selain mengandung beberapa bioaktif yang berfungsi sebagai antibakteri, beberapa zat gizi esensial akan menjadikan beluntas sebagai bahan pakan yang kaya nutrisi sehingga pemenuhan kebutuhan nutrisi akan terpenuhi.
Khasiat beluntas dalam mempertahankan produktivitas ternak unggas telah dilaporkan mampu menggantikan zat anti stress. Ayam yang diberikan ekstrak beluntas secara periodik memiliki perfoma, hemoglobin dan leukosit (sel darah putih) yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol yang diberikan anti stress komersial (Setiaji & Sudarman, 2005), dimana sel-sel ini mendukung sistem kekebalan tubuh.
Penggalian manfaat beluntas ini diharapkan akan memudahkan para peternak rakyat untuk dapat memanfaatkan potensi lokal. Musim kemarau saat ini diharapkan tidak akan menjadi penghalang dalam upaya mempertahankan atau bahkan menaikkan produtivitas unggas.
Khasiat Daun Cincau Hijau
Siapa tak kenal cincau hijau? Makanan kenyal yang berasal dari perendaman daun cincau hijau ini banyak digunakan sebagai campuran es buah. Selain memiliki rasa yang enak, cincau juga kaya manfaat bagi kesehatan. Salah satunya, dikenal dapat meningkatkan imunitas tubuh.
Melihat potensi daun cincau hijau sebagai imunomodulator untuk membantu meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh, beberapa mahasiswa Fakultas Biologi UGM melakukan penelitian lebih lanjut. Mereka meneliti secara intensif untuk mengetahui kandungan senyawa di dalamnya dan efek ekstrak daun cincau hijau terhadap aktivitas makrofag atau sel imun.
Daun cincau hijau, Pemacu Immunitas Tubuh pada Unggas (Foto: tokopedia.com)
Dalam penelitian tersebut, para mahasiswa tersebut membuat tiga macam ekstrak daun cincau hijau, yaitu ekstrak kloroform, ekstrak etil asetat, dan ekstrak etanol. Selanjutnya, dilakukan uji aktivitas imunomodulator dengan mengujikan ekstrak pada sel makrofag tikus. Setelah itu, dilakukan pula uji antioksidan menggunakan sepektrofotometer untuk melihat nilai indeks aktivitas antioksidan (IAA). Terakhir, dilakukan penggolongan senyawa pada ekstrak yang telah dibuat menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis untuk melihat senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun cincau hijau.
Hasilnya menunjukkan esktrak daun cincau hijau memiliki berbagai senyawa metabolit sekunder seperti golongan senyawa tarpenoid, flavonoid, fenolik, dan tanin. Senyawa metabolit sekunder tersebut dikenal berfungsi sebagai imunomodulator dan antioksidan alami. Senyawa-senyawa tersebut menjadikan sel-sel makrofag tubuh lebih aktif dalam memakan patogen. Selain itu, juga aktif dalam menangkal radikal bebas yang masuk kedalam tubuh,
Hasil lainnya menunjukkan nilai indeks aktivitas antioksidan (IAA) dalam ekatrak daun cincau hijau cukup tinggi yakni berkisar antar 6,3 – 7,2. Artinya, ekstrak daun cincau hijau tergolong memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat karena memiliki nilai IAA lebih besar dari 2. Selain itu, ekstrak daun cincau memiliki nilai kapasitas dan indeks fagositosis makrofag yang sangat tinggi pula.
Daun cincau hijau ini dapat menjadi alternatif baru sumber imunomodulator dan antioksidan alami bagi tubuh. Dalam penggunaanya daun cincau hijau dapat diolah menjadi minuman berkhasiat, suplemen alami, atau obat-obatan herbal yang dapat berperan dalam mempertahankan kesehatan tubuh dan meningkatkan sistem imun tubuh.
Tantangan Kedepan
Ditengah persaingan bisnis perunggasan yang begitu kompetitif, upaya peningkatan produktivitas unggas memerlukan solusi yang integratif. Tekanan harga pakan akibat tingkat persaingan bahan pakan dengan kebutuhan pangan dan energi akan berujung pada meningkatnya biaya produksi. Disisi lain, kualitas produk hasil ternak yang aman dan sehat serta budidaya unggas yang bebas dari penggunaan bahan kimia berbahaya mengingatkan kepada kita untuk kembali ke alam (back to nature).
Keuntungan ganda dari penggunaan tanaman local tersebut tidak hanya sebagai pemacu kekebalan tapi juga sebagai antibakteri, sudah selayaknya menjadi motivasi bagi para peternak untuk tidak menggantungkan bahan imbuhan pakan dari impor. Selain berbasis dari sumber daya lokal, tanaman beluntas dan cincau ini juga mudah ditanam baik di lahan marginal sekalipun sehingga penyediaannya mudah dan dapat dilakukan secara mandiri oleh peternak itu sendiri.
Selain cincau dan beluntas, masih banyak potensi bahan alami lainnya yang berpotensi untuk dijadikan bahan pakan maupun pakan imbuhan (feed additive). Walaupun musim panas dapat menyebabkan imunosupressi (stress panas) pada ternak, namun kelimpahan kekayaan alam Indonesia sudah seharusnya mendorong perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk memberikan informasi tentang teknologi dan implementasinya kepada masyarakat luas. Kita merindukan kontribusi bisnis perunggasan mampu mendongkrak keterpurukan akibat krisis dan masalah klasik cekaman panas tidak menjadi hambatan untuk meningkatkan produktivitas unggas.
Re-suluh dan Editor: Yusran A. Yahya NS
Sumber: (1) www.lipi.go.id; (2) Wikipedia.org; dan (3) www.ugm.ac.id

Previous
Next Post »
Post a comment
Thanks for your comment