#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Perlu, Fortifikasi Pangan untuk Kesehatan

Pemenuhan bahan pangan merupakan usaha yang mendasar bagi menusia. Pasalnya, manusia tidak bisa mempertahankan hidupnya tanpa pangan. Pengertian pangan sebagai hak asasi manusia ini tidak hanya bersifat kuantitatif saja, tetapi juga mencakup aspek kualitatif.
Pangan yang tersedia haruslah pangan yang aman untuk dikonsumsi, bermutu dan bergizi. Dengan demikian pembicaraan tentang pangan memang pada kenyataannya sulit dipisahkan dengan gizi. Salah satunya dengan masalah fortifikasi.

Fortifikasi merupakan upaya meningkatkan mutu gizi pangan dengan menambahkan satu atau lebih zat gizi mikro pada pangan. Sederhananya, fortifikasi merupakan pengayaan bahan makanan untuk meningkatkan kadar gizi pada manusia.
Fortifikasi merupakan hal yang penting bagi kesehatan, dan juga tumbuh kembang generasi mendatang. Seperti diketahui, kurangnya gizi yang dialami banyak anak di Indonesia bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kesehatannya di masa mendatang, dan pada akhirnya bukan tidak mungkin akan menyebabkan terganggunya kualitas kesehatan generasi selanjutnya.
Kekurangan gizi
Seperti diketahui, ada empat kekurangan gizi yang anyak ditemukan. Sebut saja protein, vitamin A, yodium, dan juga zat besi. Meskipun terkesan sepele, kekurangan keempat nutrisi tersebut memiliki dampak langsung ke kesehatan. Kekurangan zat besi, misalnya, dapat menyebabkan anemia. Selain menyebabkan anemia, kuranganya zat besi juga mnyebabkan tubuh lebih cepat terserang lemah, letih, dan juga lesu dalam beraktivitas.
Untuk mencegah masalah ini, makan diperlukan sebuah usaha yang disebut fortifikasi. Dengan cara menambahkan satu atau lebih fortifikan (zat gizi) kepada bahan makanan dan minuman yang dikonsumsi secara massal dan terus-menerus. Berbicara mengenai bahan pangan yang difortifikasi, beberapa bahan bisa dimunculkan dalam usaha menaikkan mutu gizi. Di antaranya garam, beras, gula, tepung terigu, dan minyak goreng.
Tidak heran memang, pasalnya bahan yang disebutkan tersebut merupakan bahan konsumsi utama yang digunakan masyarakat.
Sebut saja garam, banyak orang dapat berpuasa dari konsumsi gula, menyeruput teh manis, kue, dan lain-lain, tetapi garam sangat sulit dipisahkan di kehidupan sehari-hari. Berawal dari sanalah, agar bahan pangan di atas kaya akan gizi, maka ditambahkan zat gizi. Misalnya garam yang ditambahakan unsur yodium.
Bahan lainnya yang bisa difortifikasi adalah minyak goreng. Dengan menambahkan vitamin A pada minyak goreng, diharapkan kerusakan retina dan gangguan tumbuh kembang anak bisa dihilangkan.

Diharapkan dengan fortifikasi ini, konsekuensi serius dari kekurangan zat pangan tersebut termasuk ketidakmampuan belajar secara baik, penurunan produktivitas kerja, kesakitan, dan bahkan kematian, bisa dikurangi utnuk mendapatkan kualitas yang baik di segi kesehatan.
Sumber : Ediarta Bastim (www.agammenyemai.com)
Previous
Next Post »
Post a comment
Thanks for your comment