#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Perubahan Iklim Picu Pola Cuaca yang Esktrim dan Bencana Alam di Indonesia

DIOLUHTAN. Perubahan iklim yang ekstrim dalam dekade terakhir telah menyebabkan kenaikan permukaan air laut, gelombang tinggi, perubahan pola hujan dan kemarau, serta perubahan salinitas air laut.
Lahan Persawahan yang Mengalami Bencana Kekeringan
Bencana akibat perubahan iklim (bencana klimatologi) menunjukkan ciri yang berbeda dibandingkan dengan bencana geologi seperti gempa, tsunami, dan sebagainya. Bencana yang dipahami secara umum adalah bencana geologi yang bersifat mendadak dan bervariasi, baik dapat diprediksi atau tidak. Sementara bencana klimatologi terjadi secara perlahan dan dalam jangka yang relatif panjang. Pantai dan pulau-pulau kecil merupakan wilayah yang terlebih dahulu terkena dampak perubahan iklim dibandingkan wilayah-wilayah lain.
Bencana hidrometeorologi atau yang disebabkan oleh perubahan iklim menjadi bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Dampak perubahan iklim juga timbul karena ulah manusia itu sendiri diantaranya kerusakan hutan dan lingkungan.
Pencegahan dan antisipasi bencana perlu menjadi prioritas untuk meminimalisir jumlah korban dan kerugian, selain upaya penanganan saat bencana terjadi.
Menurut salah satu Penyuluh Pertanian sub Peternakan Kec. Bontocani dan Kec. Patimpeng, Kab. Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, yang wilayah tugasnya di dominasi Lembah, Hutan dan Pegunungan, berdasarkan apa yang beliau ketahui bahwa bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim pada dasarnya dipicu oleh kerusakan hutan dan lingkungan, sehingga upaya mengatasinya hanya bisa dilakukan dengan memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi. “Penyebabnya jelas dan sangat mudah, hutan yang di gunung sana itu digunduli, dan memang hanya itu (penyebabnya). Kan bisa dibandingkan begini, jadi pada waktu ada hutan tadi, sebenarnya kan air itu, air hujan semusim itu bisa masuk ke dalam tanah terus keluar secara perlahan-lahan dalam setahun menjadi mata air terus-terusan, kalau itu ada hutan. Tapi kalau itu hutan tidak ada, ya seperti (kepala) kita gundul, bila begitu disiram air langsung lari/jatuh semua, tidak ada yang meresap, otomatis yaa kekeringan karena air tanah yang di dalam tanah itu tidak tersedia,” jelas Yusran, SPt, MSi.
Menurut Yusran, pemerintah pasti telah berupaya mengurangi resiko bencana, bersama dengan upaya penanggulangan bencana. Tindakan ini untuk mengurangi potensi resiko bencana yang dapat menimpa penduduk di Indonesia, yang tercatat mencapai 205 juta jiwa tinggal di daerah rawan terjadinya bencana.
Khusus yang terjadi di Kabupaten Bone, Yusran mengatakan, kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai bencana tergolong masih sangat rendah, sehingga pihaknya terus melakukan edukasi dan penyuluhan mengenai antisipasi bencana, apalagi bisa merusak sektor pendapatan petani yaitu pertanian (tanaman pangan, peternakan, perkebunan)
Musibah banjir merupakan bencana yang paling banyak terjadi dan memakan banyak korban dari berbagai negara setiap tahun. Banjir terjadi karena curah hujan ekstrim akibat gangguan cuaca, seperti siklon tropis.
Berikutnya adalah musibah kekeringan yang mengancam keamanan pangan dunia. Pada dasarnya, fenomena perubahan iklim menimbulkan curah hujan ekstrim dalam waktu makin singkat, kemudian menjadikan masa kekeringan makin panjang. Ketidakpastian alam menjadi semakin tinggi.
Selain banjir dan kekeringan, perubahan iklim juga dapat menimbulkan bencana longsor dan kebakaran lahan gambut. “Peningkatan aktivitas gempa bumi berhubungan dengan pemanasan global” lanjut Yusran
Yusran lanjut menguraikan sebuah laporan dari program Ilmu Pengetahuan Perubahan Iklim AS (sumber : alternet.org) yang disusun oleh banyak badan pemerintah, pemanasan global akan menyebabkan kondisi cuaca menjadi semakin parah, dengan kekeringan dan banjir yang meningkat baik dalam tingkat keparahan maupun lamanya. “Laporan tersebut meramalkan frekuensi terjadinya keesktriman ini menjadi semakin cepat, dan memberi peringatan bahwa tindakan pencegahan harus memperhitungkan kecenderungan perubahan iklim agar efektif melindungi masa depan” urainya
Di sisi lainnya, seperti yang dilansir earthtimes.org. Dr. Tom Chalko, kepala geofisika di Peneliti Teknik Ilmu Pengetahuan Austria telah mencatat peningkatan aktivitas gempa bumi yang saat ini lebih besar lima kali daripada dua puluh tahun lalu. Dengan mengutip data NASA, dimana es di Bumi saat ini menyerap lebih banyak energi panas dari Matahari daripada radiasi yang dibalikkan ke angkasa, Dr. Chalko menyatakan, “Ketidakseimbangan panas ini telah menciptakan panas di dalam perut bumi tidak dapat keluar sehingga perut bumi terlalu panas. Peningkatan aktivitas gerakan seismik, tektonik, dan vulkanik adalah akibat yang tak terabaikan dari panas yang terperangkap akibat ketidakseimbangan.” Paparnya
Dr. Chalko juga mendesak komunitas ilmuwan internasional untuk membagikan info ini dengan publik dan berkata, “Konsekuensi dari kelambanan kita akan menjadi malapetaka. Tidak ada waktu untuk gerakan setengah-setengah.” desaknya agar bencana bisa diantisipasi.
Berbagai bencana itu menimbulkan kerentanan sosial, di antaranya ancaman kelaparan. Bahaya kelaparan saat ini mengancam 800 juta penduduk dunia. Dari jumlah itu, 170 juta orang berusia di bawah lima tahun. Artinya, kini banyak kasus gizi buruk yang merusak harapan bagi generasi mendatang.
Kementrian Pertanian RI seperti yang dilansir Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) telah mangantisipasi hal tersebut dengan program Aksi Tanggap Bencana, yaitu :
No
Program AKSI TANGGAP BENCANA Kementrian Pertanian RI
1



Upaya Penanganan Kekeringan


Pompanisasi
Pemberian Pupuk Kompos Kandungan Humus Tinggi
Pengaturan Pola Tanam
Penanaman Varietas Tahan Kekeringan
2

Upaya Pengangan Banjir
Melakukan Pengerukan dan Pembersihan Saluran
Menanam Varietas Tahan Genangan
3
Upaya Pemanfaatan Lahan Sub Optimal (Gambut dan Rawa)
Pembuatan saluran Air Long Storage untuk Cadangan Air Musim Kemarau dan untuk Menampung Air saat Musim Hujan

Menurut Kepala Pusluhtan BPPSDMP, DR. Ir. Sitti Munifah, MSi dalam rilisnya mengatakan bahwa perubahan iklim dapat menyebabkan bencana alam, bahkan berkurangnya pasokan air karena adanya perubahan pola hujan yang berdampak pada jatuhnya korban jiwa serta kerusakan infrastruktur. “Saatnya kita melakukan upaya nyata dalam membantu petani serta masyarakat yang terkena musibah akibat bencana.Ayo Dukung Aksi Tanggap Bencana" rilis Kapusluhtan melalui Fanspagenya
Dari kita lahir, bumi telah “menjaga” kita. Kini saatnya kita “menjaga” bumi dengan melakukan tindakan-tindakan yang ramah lingkungan, seperti mengurangi sampah, mengurangi polusi, menghemat air, menghemat energi, dan lain-lain
Source : Yusran A. Yahya

Disarikan dari Berbagai Sumber
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment