#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Antisipasi Krisis (khususnya pertanian) segera Kendalikan Nafsu Berutang

Pemerintah diminta segera mengekang nafsu untuk terus menambah utang di tengah ancaman pemburukan ekonomi nasional dan pelambatan ekonomi global. Di samping penyerapan anggaran yang dibiayai utang tidak optimal, penggunaan utang selama ini tidak produktif. Terbukti, pemerintah tidak mampu menciptakan surplus anggaran untuk membayar kembali kewajiban utang. Selain itu, penambahan utang saat ini akan memakan biaya yang lebih besar akibat kenaikan ekspektasi imbal hasil (yield) obligasi negara.
Peneliti ekonomi pada Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listyanto, mengungkapkan hingga kini belum terlihat langkah pemerintah mengendalikan utang. Padahal, dalam mengantisipasi pemburukan ekonomi nasional belakangan ini, banyak strategi yang harus diubah.
"Memang tidak gampang harus kembali merevisi APBN, tapi kalau memang rupiah berpotensi terus melemah tahun ini, maka pemerintah harus mengaji ulang, apakah defisit anggaran akan lebih menambah beban," jelasnya.

Eko menegaskan jika realisasi anggaran hingga akhir tahun tidak akan optimal, sebaiknya pemerintah menahan diri untuk terus menarik utang. Apalagi, dengan adanya kenaikan BI Rate dan situasi ekonomi yang kurang kondusif, tambahan utang akan meningkatkan yield obligasi negara.
"Untuk saat ini, seharusnya pemerintah mengoptimalkan dari sisi penerimaan yang ada karena jauh lebih produktif untuk pembangunan dibandingkan mengandalkan utang," papar dia.
Hingga akhir Juli 2013, utang Pemerintah Indonesia mencapai 2.102,56 triliun rupiah. Sedangkan jumlah utang pemerintah dalam dollar AS, hingga Juli 2013, mencapai 320,48 miliar dollar AS. Tahun ini, pemerintah berencana menarik utang baru 215,4 triliun rupiah untuk menutupi defisit anggaran yang mencapai 224,2 triliun rupiah.
Eko menambahkan terdepresiasinya rupiah di atas asumsi pemerintah menyebabkan anggaran utang bertambah. Idealnya, Kementerian Keuangan harus segera mempertimbangkan risiko yang bisa diterima meskipun pemerintah menganggap pelemahan nilai tukar rupiah baru 16 persen dan masih dianggap aman untuk menarik utang.

Previous
Next Post »
Post a comment
Thanks for your comment