Tidak ada yang lebih penting dalam pergaulan umat manusia di dunia ini selain komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan suatu pikiran, gagasan atau ide, atau pesan dari seseorang kepada orang lain. Kita berkewajiban untuk mengupayakan segala cara untuk menggunakan semua alat yang ada agar penyuluhan menjadi efektif. media penyuluhan ini adalah salahsatu media visual yang memaparkan penyuluhan pada komoditi bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.

Inilah Sepuluh Daerah di Indonesia merupakan Penghasil Ternak Kerbau Terbanyak

DIOLUHTAN-suluhtani. Di Indonesia kerbau telah berkembang sejak dahulu. Dimana telah tersebar di seluruh Indonesia termasuk Sulawesi. Kerbau yang berasal di Indonesia didominasi oleh kerbau lumpur dengan jumlah populasi sekitar 2 juta ekor dan kerbau perah terdapat 5 ribu ekor. Kerbau-kerbau tersebut dipelihara oleh peternak kecil. Untuk kerbau lumpur dengan pemeliharaan secara tradisional dengan jumlah kepemilikan 2-3 ekor induk peternak, sedangkan kerbau perah dipelihara atau digembalakan secara berkelompok pada areal sekitar para peternak berdiam.
                                                         Foto : agrobisnisinfo.com
Walaupun demikian pada beberapa tempat tertentu terdapat kepemilikan dalam jumlah besar sepeti di pulau Moa (Maluku), Sumba (NTT), dan Sumbawa (NTB) dimana jumlah kepemilikan kerbau per peternak sapat mencapai 100 ekor per induk. Dengan majunya otonomi daerah dan adanya permentan tentang penetapan SDG (sumber daya genetik) ternak lokal maka beberapa daerah mengklaim kerbau-kerbau lumpur yang ada di daerahnya untuk ditetapkan sebagai bangsa atau sub bangsa kebau di Indonesia kerana kemampuan adaptasinya pada lingkungan tertentu yang cukup berbeda dengan kawasan kerbau lainnya di Indonesia seperti kerbau Sumbawa (NTB), dan kerbau Moa (Maluku) yang diusulkan oleh daerah masing-masing untuk ditetapkan sebagai rumpun kerbau yang adaptif pada kondisi daerah spesifik pada iklim mikro masing-masing. (Rusastra, 2011)
Kerbau memiliki beberapa peranan utama secara nasional yaitu sebagai penghasil daging yang mendukung program pemerintah dalam hal swasembada daging selain daging sapi, sebagai ternak kerja, penghasil susu dan pupuk. Murtidjo (1992) menjelaskan bahwa potensi kerbau sebagai ternak potong ternyata cukup tinggi, meskipun kerbau sebagai ternak potong tidak sepopuler sapi karena dagingnya berwarna lebih tua dan keras dibanding daging sapi, seratnya lebih kasar dan lemaknya berwarna kuning. Ternak kerbau yang digemukkan, umumnya memiliki kemampuan pertambahan bobot badan rata-rata per hari lebih tinggi dibanding ternak sapi.
Daging kerbau dan kontribusinya dalam pangan sumber protein hewani masih dikesampingkan dan menempati urutan kedua sesudah susu di negara yang banyak terdapat kerbau tipe sungai atau sesudah kerja di negara yang banyak terdapat kerbau tipe rawa.
Di Indonesia harga per kilogram daging kerbau barangkali sangat mahal jika diperoleh dari kerbau belang (Tedong bonga) di Tanah Toraja, Sulawesi. Daging kerbau (buff) biasanya diperoleh dari penyembelihan (15-20 tahun) dengan berat 380 kg setelah masa kerja. Jika sengaja diternakkan untuk pedaging, maka kerbau dapat dipotong pada umur 8 bulan (Murti, T.W., 2006).
Selain menurut Murtidjo (1992) manfaat kerbau sebagai ternak kerja ternyata sangat besar. Hal ini terbukti dengan digunakannya kerbau sebagai tenaga kerja oleh 0,25 milyar petani di negara-negara berkembang. Bahkan sampai tahun 2000 pun, sebagian besar petani masih sangat tergantung pada ternak kerja. Ditinjau dari segi teknis dan ekonomis, penggunaan ternak kerbau sebagai tenaga kerja pengolah tanah di Indonesia mutlak perlu, karena sekitar 85% rumah tangga petani Indonesia rata-rata memiliki lahan kurang dari 2 ha. Sedangkan mekanisasi dengan traktor hanya dimungkinkan untuk petani yang memiliki lahan 5 ha atau lebih. Bila digunakan pagi hari atau sekali sehari, kerbau sebagai tenaga kerja pengolah tanah sanggup bekerja selama 3,5 jam. Jika digunakan pagi dan sore hari atau dua kali sehari, kerbau sanggup bekerja sampai 6 jam. Jadi, sepasang kerbau memiliki kesanggupan menyelesaikan tanah sawah seluas 2,3 ha per musim bila dipekerjakan sekali sehari dan 3,2 ha per musim bila dipekerjakan dua kali sehari. Kerbau juga sanggup mengolah sawah berlumpur dalam.
Di Indonesia, kerbau sebagai ternak perah sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat Aceh, Tapanuli Utara, Palembang, Sulawesi dan Timor. Bila dibandingkan dengan susu sapi, susu kerbau hasil pemerahan, tidak banyak mengandung air tetapi lebih banyak mengandung bahan padat, lemak, laktosa dan protein. Kandungan lemak pada susu kerbau adalah 50%, jadi lebih banyak dibandingka susu sapi. Begitu juga halnya dengan kandungan protein. Di Indonesia, umumnya susu kerbau tidak dikonsumsi langsung dalam keadaan segar, tetapi diolah untuk berbagai keperluan. Di Aceh, susu kerbau dibuat mentega dan minyak samin, sedangkan d Sumatera Utara dibuat dadih (Murtidjo, 1992).
Konsumen susu kerbau memang masih terbatas, namun peluang pengembangbiakan produk olahan dari susu kerbau cukup besar karena kerbau memiliki kadar lemak tinggi. Bibit kerbau penghasil susu cukup tersedia dan dapat diimpor dalam bentuk semen atau embrio, sedang teknologinya telah dikuasai (Triwulaningsih, 2006).
Manfaat lain dari ternak kerbau menurut Murtidjo (1992), adalah meski tanpa didukung pengetahuan ilmiah, sejak dahulu andil keterpaduan usaha pertanian dan peternakan cukup besar dalam mempertahankan hasil produksi pertanian. Keterpaduan ini juga tidak terlalu mengeksploitasi kemampuan tanah. Menggunakan ternak kerbau untuk mengolah tanah pertanian dan membuang kotoran kerbau di lahan berarti mengembalikan dan mempertahankan kesuburan tanah.
Hasil akhir pelapukan bahan-bahan organik, berkat adanya mikroorganisme yang disebut humus, mempunyai kegunaan antara lain menyerap air untuk kebutuhan tanaman, serta menjaga kelembaban dan menyerap zat-zat makanan yang dibutuhan tanaman.
Demikian pula jika kebutuhan berlaku secara efektif sesuai yang dibutuhkan peternak maka tentu existensi kerbau akan terus dipertahankan. Tetapi jika sebaliknya yang terjadi maka tentulah populasi kerbau akan menurun, karena kebutuhan tentu driveb by market and farmers need. Populasi kerbau tidak akan menurun jika ada nilai tambah yang dilakukan dan berdampak nyata secara ekonomi bagi perbaikan penghasilan para peternak (Rusastra, 2011).
Inilah Daftar Sepuluh provinsi di Indonesia dengan jumlah kerbau terbanyak
Provinsi
Tahun
2004
2005
2006
2007
2008
Nanggro Aceh Darussalam
409,071
338,272
371,143
390,334
280,662
Sumatera Utara
263,435
259,672
261,794
189,167
155,341
Sumatera Barat
322,692
201,421
211,531
192,148
196,854
Sumatera Selatan
86,528
90,300
86,777
90,160
77,271
Banten
139,707
135,041
146,453
144,944
153,004
Jawa Barat
149,960
148,003
149,444
149,030
145,847
Jawa Tengah
122,482
123,815
112,963
109,004
102,591
NTB
156,792
154,919
155,166
153,822
161,450
NTT
136,966
139,592
142,257
144,981
148,772
Sulawesi Selatan
161,504
124,760
129,565
120,003
130,109
                                                                                                                             Sumber : www.ditjennak.go.id
Ciri petenakan kerbau yang mendominasi keragaman usaha ternak kerbau di Indonesia, identik dengan ketergantungan pada pakan serat alami antara lain; rumput alam, jerami, berbagai tanaman pangan dan holtikultura serta perkebunan dengan skala usaha antara 2-3 unit ternak. Kerbau ini dapat digembalakan secara terus menerus maupun hanya digembalakan pada siang hari (Talib 2010) dan dikandangka. Kuswandi (2011) dan Prawiradigdo et, al (2010) mengatakan bahwa pakan seperti ini umumnya rendah kualitasnya sehingga membutuhkan teknologi pengkayaan nutrisi untuk meningkatkan kualitas nilai gizinya, apalagi kalau ditambah dengan masalah pemberian pakan dalam jumlah yang tidak mencukupi, maka produktivitas kerbau akan sangat sulit diperoleh.
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment