#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Budidaya Padi di Indonesia Menentang Kekuatan Alam

Lebih dari 40 tahun pertanaman padi di Indonesia tidak menggunakan pranatamangsa yang tepat, tidak memperhatikan peran sinar matahari dalam upaya peningkatan produksi padi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal itu mengakibatkan produksi padi relatif rendah, banyaknya serangan hama, kehilangan hasil yang tinggi 30-40% dan hilangnya budaya yang positif dan timbulnya budaya baru yang negatif.
Pertanaman padi yang menggunakan pranatamangsa yang tepat yakni ditanam saat sinar matahari intensitasnya tinggi dan cukup panjang dapat dipastikan produksi padi relatif lebih tinggi, kehilangan hasil rendah. Karena tersedianya sinar matahari yang intensitasnya tinggi dan lamanya penyinaran maka proses pengeringan gabah akan berjalan cepat, mudah dan murah yang mampu mencegah kehilangan hasil karena busuk dan berkecambah sebesar 30-40% dan kualitas gabah prima, harga jual tinggi dapat 15% di atas HPP.
Ada hubungan “regressi” yang kuat, hubungan “causal” sebab dan akibat antara faktor intensitas dan lamanya penyinaran sinar matahari dengan proses produksi, proses pengeringan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pertanaman padi yang mendapat sinar matahari yang intensitasnya tinggi waktunya cukup, pada saat proses produksi untuk proses asimilasi dan photosintesa padinya akan tinggi, kehilangan hasil dapat ditekan sebesar 30-40% dan kualitas gabah prima, harga jual 15% di atas HPP.
Bukti empiris yang sangat luas dan besar dapat kita lihat pertanian di daerah sub tropis mulai Amerika Serikat, China, Eropa dan Kanada kegiatan pertaniannya pada saat musim panas “summer”.
Intensitas dan lamanya penyinaran cukup panjang, pada bulan-bulan tertentu sinar matahari bersinar bisa mencapai 14 jam sampai 16 jam per hari. Karena intensitas tinggi temperatur udara bisa mencapai 40-420C.
Di samping intensitas matahari sangat kuat dan waktu penyinaran varietas tanaman yang ditanam berumur panjang sehingga energi matahari untuk photosintesa dan asimilasi lebih lama dan lebih banyak. Pertanaman padi,  jagung, kedelai yang ditanam berumur panjang sehingga produktivitas tinggi, serangan hama kecil, pengeringan pun mudah dan cepat.
Ada beberapa kontradiksi/paradoks dengan kegiatan penelitian dan pertanian di Indonesia, pertama justru memperkenalkan varietas padi yang berumur pendek yang dapat dipastikan kemampuan memanfaatkan energi sinar matahari untuk keperluan photosintesa dan asimilasi menjadi lebih sedikit.
Kegiatan paradoks/kontradiksi (bertentangan) yang kedua adalah pertanaman padi musim hujan pertama (MH I), ditanam saat intensitas penyinaran dan lamanya penyinaran pada titik terendah yaitu saat musim hujan deras.
Pertanaman padi saat musim hujan termasuk langit tertutup awan menghalangi sinar matahari. Pada saat musim hujan sering penyinaran matahari hanya 2-5 jam saja, bahkan seharian penuh tidak ada sinar matahari.
Dapat dibayangkan betapa rendahnya produktivitas pertanaman padi MH I di Indonesia, karena hal-hal sebagai berikut: 1) Kemampuan varietas untuk menangkap energi matahari sangat sedikit karena varietas berumur pendek, artinya asimilasi dan photosintesa kecil sekali, 50% di bawah varietas lokal; 2). Energi matahari pada saat musim hujan, berada pada titik terendah, 10-30% dibandingkan musim kemarau; 3). Panen dan proses pengeringan pada saat musim hujan mengakibatkan kehilangan hasil tinggi sekali 30-40%, biaya mahal.
Para peneliti padi di IRRI dan peneliti di Kementerian Pertanian memiliki asumsi dan harapan sebagai berikut: 1). Dengan varietas umur pendek petani akan cepat mendapatkan hasil dan untung; 2). Dengan varietas umur pendek IP 200 dapat dirubah menjadi IP 300 berarti ada 3 kali panen; 3). Dengan varietas yang gabahnya mudah rontok, post harvest akan lebih mudah.
Asumsi-asumsi tersebut tidak terjadi dengan beberapa alasan sebagai berikut :
1). Merubah varietas lokal dengan varietas yang berumur pendek yakni varietas unggul telah merubah waktu panen tanaman padi dari yang semula panen saat matahari bersinar terang, menjadi panen saat musim hujan. Produksi rendah, data BPS menunjukkan produksi rata-rata 5 ton/GKG/ha. Dengan data rata-rata BPS kita tidak dapat melihat masalah yang nyata di lapangan, sebab kenyataannya di lapangan ada 3 kelompok data: a). data musim hujan I padi yang tanam Okt-Nov dan panennya Januari-Februari produksi rendah di bawah 4 ton/GKG; b). data musim hujan II padi yang tanam Januari-Februari panen April-Mei produksi bisa mencapai 6-7 ton/GKG/ha; c). data musim kemarau, produksi padinya bagus.
2). IP-300; Cita-cita IP-300. Konsep ini konsep membahayakan karena apabila sepanjang tahun tanam padi, artinya siklus hidup hama tidak terputus. Akan terjadi ledakan hama. Apabila konsep ini diaplikasikan bisa terjadi tahun kesatu IP-300, tahun kedua IP-300, tahun ketiga IP-0 (tidak ada petani yang mau tanam padi karena rugi dan banyak hama).
3). Panen padi yang gabahnya rontok musim hujan, inilah penyebab terjadinya malapetaka di perpadian, karena panen padi rontok saat tidak ada matahari, pengeringan sulit, merepotkan, biaya mahal. Padi yang kadar air masih tinggi di atas 16% sudah disimpan  gabah jadi berasap, busuk, tidak laku dijual.
Dengan merubah pranatamangsa ini kita ingin pemerintah merubah waktu panen padi dari panen saat musim hujan (Januari-Februari) menjadi panen padi saat matahari bersinar terang pada bulan April-Mei.
Oleh : Dr.  Ir. Soemitro Arintadisastra MEd


Previous
Next Post »
Post a comment
Thanks for your comment