#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Bunga Cantik ini penyebab Sapi menderita “Bali Ziekte”

DIOLUHTAN-suluhtani. Penyakit Bali Ziekte yaitu penyakit yang menyerang Sapi Bali yang diakibatkan karena keracunan tanaman Lantana camara atau dikenal juga dengan sebutan tembelekan. Lantana camara yaitu sejenis tanaman perdu yang merupakan indikator lahan kritis, berdaun kecil kasar dan berbau khas yang tidak sedap, serta terdapat biji-biji kecil bulat. 
Tanaman-tanaman ini sangat mudah tumbuh dan mampu beradaptasi dalam situasi kering sehingga terkadang menjadi pilihan makanan oleh ternak sapi yang dipelihara dengan pola penggembalaan. Lantana camara sangat tidak bersahabat dengan Sapi Bali. Sapi Bali yang mengkonsumsi tanaman ini akan menyebabkan reaksi alergi dengan munculnya banyak kadar histaminnya. Lantana camara mengandung Lantadene-A yang bersifat meracuni hati, sehingga hati akan melepaskan beberapa zat yang akan menimbulkan reaksi peningkatan kepekaan kulit terhadap sinar matahari (fotosensitisasi).
Bunga Cantik "Lantana Camara" (foto: google.com)

Kendala di lapangan biasanya petani/peternak kurang menyadari kalau sapi peliharaannya sakit dan terserang Bali Ziekte. Hal ini disebabkan karena memang gejala Bali Ziekte tidak begitu terlihat. Untuk itu para petani peternak sebaiknya tidak mengikat sapi peliharaannya yang diumbar dekat dengan tanaman ini. Hasil investigasi dan penanganan penyakit Bali Ziekte di Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone dijumpai beberapa ternak sapi dengan gejala klinis Bali Ziekte.
Pada kondisi awal, sapi yang mengalami penyakit Bali Ziekte mengalami demam, pucat , mata berlendir, dan hidung mengalami peradangan. Peradangan pada selaput lendir akan berlanjut menjadi luka-luka dangkal yang tertutup. Kerusakan kulit berupa eksim akan mengering, kemudian mengelupas menyerupai kerupuk dan akhirnya terlepas meninggalkan luka.
Terjadinya kerusakan pada kulit akibat serangan penyakit Bali Ziekte terutama terjadi dibagian tubuh sapi yang tidak ditumbuhi bulu atau yang bulunya jarang. Kulit sapi yang sedikit atau tidak berpigmen dan yang terus menerus terkena sinar matahari, seperti bagian telinga, muka, punggung, perut, paha bagian dalam, scrotum, dan cermin pantat juga sering mengalami luka- luka. Pada awalnya, luka-luka tersebut timbul secara simetris, yaitu terjadi pada tubuh bagian kanan dan kiri pada organ yang sama. Luka yang timbul menyebabkan rasa gatal, sehingga sapi akan menjilat- jilat bagian yang luka tersebut sehingga semakin meluas. Keadaan ini akan lebih parah bila sapi terjemur atau kena panas matahari secara langsung. Sering terjadi infeksi pada bekas luka, sehingga lukanya menjadi koreng yang mengeluarkan cairan bahkan bernanah. Secara umum tingkat kematian penyakit ini rendah, kerugian timbul karena laju pertambahan bobot badan yang sangat rendah. Jika tanaman Lantana camara yang dimakan cukup banyak serat diikuti infeksi sekunder yang diakibatkan dari efek toksin Lantana camara maka akan sangat fatal akibatnya sehingga bisa menimbulkan kematian pada Sapi Bali tersebut. Perkembangan luka atau radang biasanya akan diikuti oleh timbulnya larva lalat yang bertelur pada luka, keadaan ini akan semakin memperparah kondisi sapi yang sakit.

Pemberian injeksi "****dryl" untuk antihistamin penanganan Keracunan Ringan pada Sapi


Cara mencegah dan menangani penyakit Bali Ziekte pada Sapi Bali adalah sebagai berikut : (1) Jauhkan sapi dari tanaman Lantana Camara, terutama dalam keadaan lapar, (2) Waspadai Lantana camara dapat tumbuh subur di lahan kering pada musim kering dimana tanaman hijauan pakan ternak tidak mampu tumbuh. Sehingga sapi akan memakannya, (3) Sapi yang menunjukan gejala Bali Ziekte supaya dihindarkan dari panas matahari, diberi air minum dan pakan yang cukup. Baik juga bila sapi diberi minum air kelapa, (4) Luka yang timbul diolesi minyak dan dijaga agar tidak terjadi infeksi. Jika tidak memungkinkan melakukan penanganan sendiri, segera hubungi Dokter Hewan/Mantri Hewan (Penyuluh Dinas Peternakan setempat).
Yusran A. Yahya NS

(Mantri Hewan/Penyuluh Pertanian Disnak Bone)

Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment