#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Manfaat Dan Pentingnya Pemupukan serta Pengairan pada Tanaman Jagung

DIOLUHTAN. Salah satu kunci utama keberhasilan peningkatan produktivitas jagung adalah pengaplikasian pupuk berimbang ke dalam tanah serta kecukupan air bagi tanaman, dengan memperhatikan kadar air serta unsur hara tanah, jenis pupuk yang sesuai dan kondisi lingkungan fisik di areal penanaman. 
Pemupukan
Aplikasi pemupukan ke dalam tanah perlu mempertimbangkan jenis pupuk serta dosis/takaran pada jenis tanah dan lingkungan tertentu. Ketersediaan unsur N di dalam tanah dalam jumlah yang beraneka ragam. 
Lahan pertanian umumnya mengandung unsur N dalam jumlah yang tidak mencukupi, terkecuali pada tanah baru hasil pembukaan lahan vegetasi hutan. Pada lahan latosol, podsolik, vulkanik dan mediteran, pemberian pupuk Urea dengan dosis 200 - 400 kg/ha memberikan efisinsi pemupukan (setiap kg hasil panen diperoleh dari setiap kg pupuk urea yang diberikan) 6.0–7.5. Berbeda dengan pupuk N, pemberian pupuk K perlu diperhatikan karena tidak semua tanah memerlukan tambahan pupuk P. 
Tanah vulkanis di lahan kering, tanaman jagung kurang tanggap terhadap pemupukan P. Berbeda halnya pada tanah berkapur, pemberian pupuk P dosis 100–200 kg/ha menunjukkan efisiensi pemupukan yang cukup baik. Pengaruh yang cukup signifikan terlihat jelas pada tanah Podsolik dimana ketersediaan P merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman, dikarenakan kandungannya yang sangat rendah dan unsur P sangat kuat terikat di dalam tanah ini sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Sama seperti pupuk P, pengaplikasin pupuk K ke dalam tanah perlu diperhatikan karena pemupukan K umumnya kurang memberikan tanggapan.
Dosis pemupukan untuk budidaya tanaman jagung yang umumnya dianjurkan yaitu pupuk Urea 450 kg/ha; pupuk SP-36 100 kg/ha; dan KCl 100 kg/ha. Pupuk Urea diaplikasikan sebanyak 3 kali masing-masing 150 kg/ha yaitu pada saat tanam, 3 Minggu Setelah Tanam (MST) dan 6 MST. Sementara itu, pupuk SP-36 dan KCl diberikan ke dalam tanah saat tanam. Alternatif lain dosis pemupukan untuk jagung, apabila menggunakan pupuk majemuk yaitu pemberian pupuk NPK Phonska (15-15-15) 400 kg/ha dan Urea 200 kg/ha. Pupuk NPK Phonska diaplikasikan 2 kali yaitu saat tanam (250 kg) dan saat 3 MST (150 kg). Sama halnya dengan NPK Phonska, pupuk Urea juga diaplikasikan 2X yaitu 100 kg saat tanaman berumur 3 MST dan 100 kg saat 6 MST. Pemberian pupuk ke dalam tanah dilakukan dengan cara ditugal dengan jarak 7-10 cm di samping lubang tanaman dan ditutup dengan tanah. Selain pupuk anorganik, pupuk organik (pupuk kandang/kompos) perlu diberikan ke dalam tanah untuk memperbaiki sifat fisik tanah. Dosis yang diperlukan yaitu sekitar 5 ton/ha dan diberikan saat tanam sebagai penutup lubang tanam.
Efisiensi pemupukan, jenis dan dosis pupuk yang diaplikasikan sebaiknya didasarkan pada hasil analisis/uji tanah (Soil Testing). Akan tetapi pendekatan tersebut dihadapkan pada keterbatasan areal yang tanahnya telah dianalisis, adanya perubahan status hara tanah seiring dengan lamanya pemanfaatan dan pengelolaan hara serta sulitnya petani mengakses fasilitas uji/analisis tanah tersebut karena masih kurangnya perangkat uji tanah (Soil Test Kit) yang beredar di kalangan kelompok petani dan belum intensifnya penyuluhan pertanian terkait analisis tanah dari petugas penyuluh lapang Dinas Pertanian di daerah-daerah.
Pengairan
Lahan sawah dengan irigasi yang terbatas atau sawah tadah hujan yang dilengkapi sumur dangkal sebaiknya ditanami jagung pada musim kemarau atau setelah padi (corn after rice). Pengairan pada musim kemarau bersumber dari air irigasi maupun air tanah yang dipompa dan para petani umumnya membuat saluran air di antara barisan tanaman dengan menggunakan cangkul. 
Pengairan untuk budidaya jagung di musim kemarau perlu memperhitungkan efisiensi penggunaan air dan tenaga kerja (biaya). Lahan irigasi dengan sumber air terbatas dan lahan sawah tadah hujan pada musim kemarau memerlukan 4 kali pengairan selama masa pertumbuhan dan perkembangan jagung. Pengairan dilakukan saat tanaman berumur 15, 30, 45 dan 60 Hari Setelah Tanam (HST).

Tanaman jagung membutuhkan air yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan produksi yang optimal. Air sangat diperlukan terutama saat penanaman (0 HST), pembungaan (45-55 HST) dan saat pengisian biji (60-80 HST).
Drainase atau sistem pembuangan air juga sangat penting untuk petumbuhan tanaman jagung yang optimal. Hindari tanaman dari kondisi tanah yang tergenangi air karena kondisi ini akan menjadikan tanaman layu dan mati.
Dari Berbagai Sumber
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment