Tidak ada yang lebih penting dalam pergaulan umat manusia di dunia ini selain komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan suatu pikiran, gagasan atau ide, atau pesan dari seseorang kepada orang lain. Kita berkewajiban untuk mengupayakan segala cara untuk menggunakan semua alat yang ada agar penyuluhan menjadi efektif. media penyuluhan ini adalah salahsatu media visual yang memaparkan penyuluhan pada komoditi bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.

Siasati Harga dan Pupuk Langka, Desa Masago Lakukan Penyuluhan Pupuk Bokhasi Kotoran Sapi

Penyuluhan pembuatan pupuk bokhasi (31/3/2014) hasil fermentasi kotoran (feces) sapi yang dilaksanakan di dusun Macca, Desa Masago, Kec. Patimpeng, merupakan wujud terlaksananya pemanfaatan limbah kotoran sapi melalui fermentasi. Kegiatan ini dilakukan secara bergotong royong yang melibatkan petani peternak sapi yang dipandu langsung oleh Andi Elya Azis, SPt (THL-TB Penyuluh Pertanian BP4K Kab. Bone).
Menurut Andi Elya, tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap pada petani tentang pemanfaatan limbah kotoran sapi untuk dijadikan pupuk organik untuk tanaman melalui proses fermentasi yang dinamakan Bokhasi. Bokashi merupakan kata yang diambil dari bahasa jepang yang berarti bahan organik yang terfermentasi. Dalam pengertian sehari-hari, bokhasi ini berarti pupuk kandang/kompos yang dihasilkan dengan penambahan EM-4” sebutnya saat memberikan bimbingan penyuluhan pada masyarakat petani Dusun Macca, Masago.
Bahan utama pembuatan bokhasi adalah feses (kotoran hewan), sekam atau serbuk gergaji. Bahan lain yang sangat dibutuhkan adalah dedak, EM-4 dan molasses (tetes tebu)/gula pasir atau gula merah. Bila bahan-bahan tersebut sudah siap, maka dapat dilakukan proses pembuatannya yaitu (a) melarutkan molases atau gula dan EM-4 dengan air secara merata; (b) campurlah feses, sekam atau serbuk gergaji dan dedak secara merata; (c) dilakukan penyiraman larutan I ke dalam bahan 2 secara perlahan-lahan dan merata; (d) bahan yang sudah dicampur selanjutnya dapat diletakkan diatas tempat yang kering, atau dapat juga dimasukkan kedalam ember atau karung. Bila proses penuangan bokasi pd lantai sudah selesai, tumpukan bokhasi ditutup dengan karung goni atau terpal; (e) diusahakan suhu tumpukan sekitar 40-50ºC, suhu diusahakan dikontrol minimal sehari sekali. Bila suhunya melebihi 50ºC, tumpukan bokhasi dapat dibalik, didiamkan sebentar agar suhu turun dan ditutup kembali. Hal ini harus dilakukan secara rutin,
Proses pembuatan bokhasi (fermentasi) berlangsung sekitar 4-7 hari. Setelah bahan jadi bokhasi, karung goni penutupnya dapat dibuka. Bokhasi yang berhasil (yang baik) memiliki karakteristik sebagai berikut : warna hitam, tekstur gembur, tidak panas dan tidak berbau. Dalam kondisi tersebut bokhasi dapat digunakan sebagai pupuk.
Hj. Hasniati, SH, Kepala Desa Masago sangat mengapresiasi bimbingan pembuatan pupuk bokhasi ini agar limbah-limbah peternakan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman yang kandungan unsur haranya meningkat setelah difermentasi. “Dengan penggunaan pupuk bokashi ini secara teratur, seperti yg dikatakan Ibu PPL, maka akan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian. Disamping itu biaya produksi juga bisa diminimalisir dan yang terpenting kondisi kondisi tanah akan tetap stabil dan terjaga. Sehingga dalam rangka peningkatan produksi tanaman pertanian, penggunaan pupuk bokashi merupakan salah satu alternatif yang bijak, efektif dan efisien” ujarnya saat para petani mengambil pupuk bokhasi kotoran sapi yang sudah jadi dan siap diaplikasikan. (Y.A.Y)
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment