#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Kekesalan Presiden : Bulog dan Bawang?



Ketika Presiden Sby "kesal banget" terhadap melonjak nya harga bawang di pasaran, mesti nya ada diantara para pembantu nya yang mau mengambil tanggungjawab. Sikap ksatria ini, rupa nya tidak pernah muncul. Yang mengemuka justru lahir nya sikap saling tuding dan saling membela diri. Kementerian Pertanian merasa apa yang ditempuh nya sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Kementerian Perdagangan pun begitu. Bahkan Kementerian Koordinator Perekonomian sendiri, tampak seperti yang biasa-biasa saja. Padahal, rakyat tentu akan merasa senang, sekira nya ada pihak yang secara jantan berani mengakui kecerobohan nya.

Muncul nya gagasan yang meminta agar Perum Bulog berani menjadi "solutor" atas kemelut harga bawang, sebetul nya cukup menarik untuk dianalisis lebih lanjut. Sebagai "stabilisator" dan "regulator", Bulog sudah selayak nya tampil pro aktif dan tidak cuma duduk manis menyaksikan perkembangan yang terjadi. Rakyat akan senang kalau para petinggi Bulog mampu melahirkan terobosan cerdas dalam mencari jalan keluar terbaik atas masalah harga bawang ini. Bahkan harapan rakyat, Bulog bukan hanya bicara soal bawang semata, tapi akan lebih elegan bila Bulog pun mampu menjadi "dewa penolong" atas kemelut yang menimpa komoditas pangan strategis lain nya.
Citra Bulog dalam peta bumi pembangunan bangsa dan negara, memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Sejak Bulog "berubah bentuk" dari Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kehadiran dan keberadaan nya sebagai "lembaga parastatal", terekam kurang memenuhi harapan banyak pihak. Penyanderaan IMF terhadap Bulog sejak tahun 1998 lalu menyebabkan kiprah dan kinerja Bulog berjalan ala kadar nya. Tidak tampak terobosan yang dilakukan. Masalah nya menjadi semakin mengenaskan, tatkala beberapa petinggi Bulog, mulai dari Direktur Utama, Direktur dan beberapa pejabat Bulog lain nya, terjerat dalam kasus korupsi, yang menyebabkan mereka harus dijebloskan ke dalam bui.
Kemelut harga bawang yang baru saja terjadi dan kemudian diikuti oleh kenaikan harga cabai merah, jangan cuma dipandang dari aspek melonjak nya harga yang cukup menghebohkan dan membuat ibu-ibu rumah tangga kecewa berat terhadap Pemerintah. Kondisi ini sepatut nya dijadikan kunci masuk untuk meneropong ketidak-ajegan nya sistem pangan nasional secara keseluruhan. Suka atau pun tidak, soal tata niaga pangan, terkesan masih belum mendapat perhatian serius dari Pemerintah. Beberapa fakta menunjukkan, Pemerintah sendiri tampak lebih fokus pada upaya peningkatan produksi beberapa komoditas pangan strategis, guna mencapai swasembada.
Walau tidak sepolitis dan sestrategis beras, bawang dan cabai, tetap merupakan komoditas pangan yang butuh pengelolaan serius dari Pemerintah. Arti nya, tidak mungkin seorang Presiden Sby akan "memarahi" pembantu nya, kalau bawang bukan komoditas yang cukup penting. Inilah barangkali salah satu pertimbangan nya mengapa para petinggi Bulog, terekam ingin memberi sumbangsih pikiran dan tenaga nya, guna membantu mengatasi kemelut harga bawang yang sempat menghebohkan itu. Bahkan beberapa pihak menilai, turun tangan nya Bulog dalam menciptakan stabilisasi harga pangan, pada hakekat nya merupakan langkah yang pantas kita dukung dengan sepenuh hati.
Bulog dan bawang, tentu bukan hanya sebuah rangkaian kata yang tidak memiliki kaitan makna. Kejadian luar biasa yang mematri harga satu kilo gram bawang hampir sama dengan harga satu kilo gram daging sapi, benar-benar sebuah kejutan yang mencengangkan. Selama republik ini berdiri, baru kali ini, harga bawang melambung cukup tinggi. Ibu-ibu rumah tangga pun jadi kelabakan. Bawang adalah kebutuhan sehari-hari yang tak tergantikan oleh komoditas pangan lain. Bumbu dapur, jajanan kuliner dan lain sebagai nya, pasti akan memerlukan bawang sebagai bahan dasar nya. Akibat nya wajar kalau ibu-ibu rumah tangga pun langsung berteriak dan meminta Pemerintah untuk sesegera mungkin melahirkan jalan keluar nya.
Masuknya Bulog secara resmi dalam tata niaga pangan, khusus nya komoditas bawang, diharapkan pengalaman pahit sebagaimana yang kita alami selama ini, tidak bakal terulang lagi. Bulog memang perlu pro aktif. Bulog dituntut mampu menerapkan "sistem deteksi dini" dalam menjawab berbagai persoalan harga pangan. Kita percaya, jika Bulog mampu tampil prima dan meyakinkan, rasa nya kita tidak akan lagi mencap bahwa Pemerintah cuma pinter menjadi "pemadam kebakaran".
Salam, Suara Rakyat
                                                                                                                                                                               sumber : suara rakyat, 27/3/13

Previous
Next Post »
Post a comment
Thanks for your comment