#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Inovasi dan Teknologi Hortikultura Menyentuh Peningkatan Gizi Masyarakat

Tanaman hortikultura, khususnya buah dan sayur merupakan sumber vitamin dan mineral utama bagi kebutuhan diet manusia. Di samping itu juga menjadi sumber karbohidrat seperti pisang dan sukun pada komoditas buah, serta kentang dan labu pada komoditas sayur. Sedikit sekali dari tanaman hortikultura buah dan sayur yang menghasilkan protein, kecuali sayuran dari kelompok kacang-kacangan dan kandungan yang lebih sedikit lagi pada komoditas buah.
Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman tanaman terbesar kedua di dunia, memiliki potensi yang besar untuk menyediakan berbagai jenis tanaman (khususnya hortikultura) sebagai sumber pangan penyedia karbohidrat, protein dan vitamin. Namun demikian,  tanaman budidaya yang berkembang luas sekarang umumnya berkisar pada jenis-jenis yang sudah lama dibudidayakan dan mengikuti permintaan konsumen.
Upaya peningkatan gizi masyarakat secara tidak langsung berarti upaya memberikan kemudahan bagi setiap kalangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan sebagai sumber gizi. Kemudahan berarti mudah memperolehnya,  cukup jumlahnya dan terjangkau harganya. Sehingga inovasi teknologi yang harus disediakan dalam upaya peningkatan gizi masyarakat.
Langkah-langkah penyediaan inovasi teknologi tersebut dimulai dari penggalian potensi dan peningkatan penggunaan sumberdaya genetik sayuran lokal. Sayuran yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat didominasi oleh sayur introduksi yang umumnya berasal dari wilayah sub-tropis.
Sebagaimana diketahui, sayuran introduksi ini harus ditanam di dataran tinggi. Di samping areal yang terbatas, sistem pertanian dataran tinggi juga terbukti berakibat buruk pada konservasi lahan. Sebaliknya, sayuran lokal merupakan tanaman tropis yang tumbuh di dataran rendah, akan memberikan kelebihan pada  ketersediaan areal yang  lebih luas dan lebih aman terhadap konservasi lahan.
Langkah selanjutnya melakukan tropikasinasi sayuran dataran tinggi, yakni melakukan rekayasa agar tanaman sayuran yang biasa tumbuh di dataran tinggi dapat tumbuh di dataran rendah. Salah satu caranya adalah dengan melakukan perakitan varietas, baik secara pemuliaan konvensional maupun transgenik/cysgenik dengan gen ketahanan terhadap suhu panas pada sayuran dataran tinggi (contoh: gen Tuf).
Dilakukan juga seleksi dan perbaikan sumberdaya genetik buah lokal. Produksi buah lokal umumnya masih bergantung pada tanaman pekarangan atau hutan. Di samping produksinya yang terbatas, kualitasnya juga masih rendah. Dengan seleksi dan perbaikan varietas diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman buah. Perbaikan varietas dapat ditempuh melalui pemuliaan konvensional dibantu dengan teknologi marka molekuler.
Di samping itu, dilaksanakan juga penggalian potensi nilai gizi buah lokal. Masuk dan berkembangnya komoditas buah dari luar seperti buah naga tidak lepas dari promosi yang gencar berkaitan dengan kandungan gizi dan manfaatnya untuk kesehatan. Dengan iming-iming untuk penyembuhan berbagai penyakit inilah, pertumbuhan permintaan buah naga menjadi tinggi, padahal dari sisi cita rasa buah naga bukanlah selera Indonesia. Demikian juga meningkatnya permintaan buah sirsat dan manggis juga tidak lepas dari promosi manfaat buah-buah ini untuk kesehatan. Oleh karena itu, upaya peningkatan konsumsi buah lokal perlu didorong dengan penelitian pada fakta-fakta nutrisi dari buah-buahan yang akan dikembangkan.
Pengembangan produk pangan fungsional dari buah dan sayur lokal. Tanaman buah dan sayur memiliki potensi sebagai makanan fungsional untuk memenuhi permintaan konsumen berkebutuhan khusus. Dalam masalah ini, beberapa pihak telah memberikan perhatian yang cukup tinggi. Sebagai teladan: sebuah lembaga nirlaba seperti Bill Gates Foundation telah mengeluarkan biaya puluhan miliar membiayai sekelompok peneliti untuk mendapatkan buah pisang yang memiliki kandungan bheta-karoten yang tinggi. Padahal untuk yang ini di Indonesia justru tersedia sumberdaya genetik yang memiliki kandungan yang tinggi secara alami. Demikian juga beberapa tanaman lain memiliki kandungan gizi yang ekstra yang dapat digunakan untuk makanan fungsional.
sumber : www.tabloidsinartani.com
Previous
Next Post »
Post a comment
Thanks for your comment