Tidak ada yang lebih penting dalam pergaulan umat manusia di dunia ini selain komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan suatu pikiran, gagasan atau ide, atau pesan dari seseorang kepada orang lain. Kita berkewajiban untuk mengupayakan segala cara untuk menggunakan semua alat yang ada agar penyuluhan menjadi efektif. media penyuluhan ini adalah salahsatu media visual yang memaparkan penyuluhan pada komoditi bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.

Bangsa dan Sifat Genetis Bibit Sapi Unggul


Target utama Peternak sapi potong adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari kegiatan peternakan yang dilakukannya. Keuntungan ini bisa didapatkan dari kenaikan berat Sapi potong serta kualitas daging yang dihasilkan.
Pada dasarnya semua bangsa dan tipe sapi dapat digemukkan. Akan tetapi, untuk mendapatkan hasil yang maksimal sebaiknya peternak sudah dapat memperhitungkan hasil yang diperoleh (penjualan hasil ternak) dengan biaya yang dikeluarkan (pembelian bibit sapi, pakan, biaya operasional).
Secara umum, bibit sapi yang menguntungkan memang bibit sapi yang tingkat pertumbuhannya cepat, dagingnya baik dan berkualitas tinggi. Untuk mendapatkannya bukanlah hal yang mudah, peternak wajib memiliki pengetahuan, pengalaman dan kecakapan. Salah satu kriteria dalam pemilihan bibit sapi yang unggul adalah Bangsa dan sifat genetis sapi.

Setiap bangsa sapi memiliki sifat genetis yang berbeda-beda, baik mengenai dagingnya , ataupun kemampuan beradaptasi dengan lingkungan seperti penyesuaian iklim dan penyesuaian pakan.
        Menurut teori, sapi-sapi yang unggul sebagai sapi pedaging adalah jenis : Hereford, Aberdeen angus, beefmaster,charolais, dsb, yang biasanya harus di-impor dari luar negeri. Sapi-sapi jenis ini dapat menghasilkan prosentase karkas lebih dari 60%. Sedangkan jenis lokal seperti sapi bali, madura,ongole, prosentase karkas selalu lebih rendah dari jenis-jenis sapi diatas.
Akan tetapi, pada prakteknya sapi-sapi jenis unggul ini tidak popular di kalangan peternak tradisional di Indonesia. Beternak sapi-sapi impor seringkali tidak dapat memenuhi target yang diharapkan. Pendapat ini memang ada benarnya, tetapi penyebab utamanya terkadang bukan karena bibit yang jelek, melainkan ketidaksesuaian iklim dimana sapi–sapi itu diternakkan, teknik pemeliharaan serta kualitas pakan yang rendah.
Perbedaan iklim antara daerah asal dengan lingkungan yang baru membuat sapi-sapi impor harus berjuang extra keras untuk beradaptasi yang akhirnya stress dan mempengaruhi pertumbuhan beratnya. Belum lagi masalah ketidaktahuan peternak tentang perbedaan perlakuan antara sapi impor dengan sapi lokal. Demikian juga dengan pakan yang diberikan, kualitasnya berbeda dengan pakan sehari-hari dikonsumsi sapi-sapi impor ini. Pada akhirnya, peternak tidak akan dapat menghasilkan keuntungan bahkan bisa merugi.

Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment