#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Metode Sinkronisasi Birahi dalam Inseminasi Buatan (IB) Ternak Sapi

DIOLUHTAN. Kawin suntik atau lebih dikenal dengan Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah satu cara yang efektif dalam meningkatkan populasi ternak. Cara ini cepat menghasilkan bibit yang bermutu, dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bibit sapi pejantan unggul serta mendukung upaya penyebaran bibit berkualitas genetik unggul. Bibit ternak sapi yang memiliki genetik unggul tersebut antara lain sapi Brahman, Limousin, Brahman Cross, Angus dan lain-lain. 
Dengan IB diharapkan produktivitas ternak lebih baik dan cepat besar, sehingga dapat memberikan keuntungan bagi petani peternak untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Agar IB pada ternak sapi berhasil, salah satu di antaranya dapat dilakukan dengan metode sinkronisasi birahi. Sehubungan dengan hal ini, dalam pelaksanaan kegiatan IB pada ternak sapi dapat dilakukan upaya pengembangan melalui pengaturan perkawinan dengan metode sinkronisasi birahi atau penyerentaan birahi. Upaya ini merupakan salah satu cara yang efektif dalam mencari akseptor baru dan keberhasilan pelaksanaan IB di lapangan.
Manfaat dan Keuntungan IB
Banyak manfaat dan keuntungan yang didapat dari Inseminasi Buatan (IB) ini, antara lain :
1) Anak sapi yang dihasilkan cenderung akan lebih unggul dan berkualitas karena sumber sel kelamin jantan yang digunakan adalah sapi pejantan unggul/pilihan yang sehat;
2) Proses mengawinkan ternak sapi lebih mudah dan aman karena tidak perlu mencari sapi pejantan, melainkan dengan hanya memanggil petugas/inseminator terdekat;
3) Induk yang bertubuh relatif kecil dapat kawin dengan sapi pejantan yang bertubuh besar;
4) Anak sapi jantan hasil kawin suntik/IB yang dipelihara dapat dikerem dan tidak dipakai sebagai pemacek/pejantan, sehingga dapat lebih cepat besar dan tidak menjadi galak;
5) Penularan penyakit dapat dihindari karena tidak menggunakan langsung ternak sapi pejantan untuk mengawinkan;
6) Sapi pejantan yang benar-benar unggul/terpilih dan teruji mutunya dapat mengawini induk (sapi betina) yang lebih banyak dan menjangkau wilayah yang sangat luas, tanpa mendatangkan sapi pejantan untuk mengawini sapi betina yang birahi;
7) Peternak tidak perlu membeli/memiliki sapi jantan unggul yang harganya relatif mahal, tetapi cukup memanfaatkan semen dari sapi pejantan unggul untuk disuntikkan pada sapinya.
Beberapa tanda-tanda birahi sapi induk betina yang siap untuk dilakukan IB, antara lain : gelisah, sering ribut dan nafsu makan kurang; alat kelamin (vulva) membengkak, berwarna merah, hangat; jika diraba mengeluarkan cairan kental/lendir bening. Oleh karenanya pada saat ditemukan kondisi birahi tersebut, pemilik ternak sapi segera melaporkan kepada petugas agar tidak terjadi kesalahan waktu mengawinkan, karena waktu yang terlalu maju atau terlambat dapat menyebabkan kegagalan mencapai kebuntingan pada ternak sapi.
Sedangkan untuk pelayanan IB dapat diperoleh dengan menghubungi petugas IB setempat/terdekat. Segera hubungi petugas IB setelah melihat tanda-tanda birahi pada ternak sapinya. Apabila tidak ada petugas IB, dapat menghubungi penyuluh pertanian setempat untuk mendapatkan informasi keberadaan petugas IB yang siap memberikan pelayanan atau menghubungi penyuluh pertanian setempat untuk menyampaikan informasi tentang tanda-tanda birahi ternak sapinya kepada petugas IB untuk dapat ditindaklanjuti.
SISTEM SINKRONISASI
Ada 2 (dua) sistem sinkronisasi birahi pada ternak sapi, pertama menggunakan produk prostaglandin. Ada beberapa merek yang digunakan, antara lain Prosolvin, Reprodin, Lutalyse, Boviline dan Estrumate. Sedangkan sistem kedua menggunakan produk CIDR (Controlled Interval Drug Release).
Cara Kerja Sistem Sinkronisasi Birahi
Keberhasilan setiap kegiatan sinkronisasi birahi pada ternak sapi tergantung dari cara kerja masing-masing sistem dalam penggunaan produk. Kedua produk di atas berbeda cara pemberiannya maupun cara kerjanya. Siklus organ-organ reproduksi sapi betina normal selama periode 21 hari. Pada H1 (hari-1), si betina sedang birahi. Ia mempunyai folikel yang seperti melepuh dengan sebuah telur masak di dalamnya. Folikel menghasilkan esterogen sangat banyak, yang menyebabkan si betina menunjukkan tanda-tanda birahi. Pada H2 (hari-2), folikel pecah, telur terlepas, dan produksi esterogen terhenti. Pada H3 (hari-3) sel-sel luteal mulai terbentuk, mengisi tempat kosong bekas telur dan membentuk suatu struktur yang disebut corpus luteum atau CL dan menghasilkan progesterone.
Bila betina tersebut tidak bunting, sekitar H17/H18 (hari-17/hari-18), uterus mulai menghasilkan prostraglandin alami, yang akan melarutkan corpus luteum. Dengan lenyapnya CL, folikel baru mulai berkembang di bagian lain dari salah satu indung telur (ovarium). Dalam keadaan normal, satu siklus birahi sempurna dicapai sekitar 21 hari.
Pada kelompok ternak sapi betina yang bunting, tahap siklus birahinya tersebar secara acak. Sekitar 40% akan berada dalam tahap folikuler, sisanya 60% dalam tahap luteal. Pada kondisi normal, 50% ternak sapi betina akan berada dalam keadaan birahi setiap hari. Selanjutnya sinkronisasi dirancang untuk menjadikan seluruh ternak sapi betina birahi secara serempak untuk memperlancar dan memudahkan pelaksanaan IB secara efisien.
Sinkronisasi Memakai Prostaglandin (PGF2a)
Prostaglandin merupakan kelompok bahan-bahan aktif kimiawi yang mempunyai sifat-sifat hampir sama. Semua produk prostaglandin dapat diperoleh berdasarkan resep dokter hewan, karena potensi efek sampingnya. Dalam hal ini, perlu penanganan yang cermat dan berhati-hati untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan atau hal-hal yang berefek negatif (kurang baik), karena prostaglandin tidak boleh ditangani oleh para penderita asma atau wanita dalam usia subur.
Karena prostaglandin bekerja dengan cara melarutkan corpus luteum, ternak sapi harus mempunyai siklus birahi yang normal. Ternak sapi yang terlalu kecil atau kurang gizi mungkin tidak mempunyai siklus birahi dan prostaglandin tidak akan merangsang timbulnya siklus birahi pada ternak sapi. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi besarnya presentase ternak sapi mempunyai siklus birahi normal dalam satu kelompok adalah : kondisi tubuh, bangsa, umur, jarak kelahiran (interval) anak, musim dan cuaca.
Ada 4 (empat) Pilihan dalam Penggunaan Prostaglandin di Lapangan
Pilihan 1. Pada pilihan ini semua ternak sapi yang birahi disuntik PGF2a pada H0 (hari-0) dan ulangi lagi pada H11 (hari-11). Kemungkinan dapat mengenali dan menyuntik ternak sapi yang birahi H13 dan H15 (hari-13 dan hari-15). Dengan pilihan ini harus meluangkan waktu untuk mengamati tanda-tanda ternak sapi pada birahi hari ke 2 – 5 pasca penyuntikan PGF2a.
Pilihan 2. Bila ternak sapi tidak dikandangkan dan berada pada suatu tempat terbuka, mungkin pilihan 2 perlu dipertimbangkan. Pada pilihan 2 ini, ternak sapi yang birahi juga disuntik dengan PGF2a pada H0 dan H11 (hari-0 dan hari-11). Kemungkinan dapat mengawinkan seluruh ternak sapi tersebut 80 jam, setelah penyuntikan PGF2a yang kedua.
Pilihan 3. Jika tidak ingin seluruh ternak sapi birahi dan beranak pada saat bersamaan, perlu mempertimbangkan pilihan 3, yang merupakan perencanaan program perkawinan dan beranak secara bertahap. Setelah suntikan pertama, sekitar  60% ternak sapi yang bersiklus birahi normal akan mengalami birahi antara H-2 dan H-4 (hari-2 dan hari-4). Ternak sapi yang birahi diinseminasi sekitar 12 jam   setelah mereka terlihat diam saat dinaiki pertama kali.
Pilihan 4. Pertimbangan pilihan 4 bila tidak yakin bahwa presentase ternak sapi mengalami siklus birahi tinggi. Awasi tanda-tanda birahi ternak sapi dan kawinkan semua ternak sapi yang menunjukkan birahi dalam jangka waktu 5 hari. Bila dapat menangkap gejala birahi ternak sapi pada 20–25% dari ternak sapi yang ada selama jangka waktu  5 hari tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari ternak sapi yang ada mempunyai siklus birahi normal. Lanjutkan dengan menyuntik ternak-ternak sapi lainnya dengan prostaglandin satu kali saja, pada H-5 (hari-5), dan segera kawinkan mereka bila  menunjukkan adanya tanda-tanda birahi.
Sinkronisasi Memakai Controlled Interval Drug Release (CIDR)
Implant ditempatkan ke dalam vagina dengan menggunakan alat pemasang. Bentuk CIDR ada 2 (dua) yaitu bentuk spiral dan huruf “T“. Cara penggunaan CIDR :
1) Kombinasi CIDR dengan Oestradiol. CIDR berisi kombinasi progesteron dan Oestradiol Benzoate, pemakai dengan cara implantasi ke dalam vagina selama 10–12 hari. Ternak sapi betina dapat di IB setelah 56 jam CIDR dicabut, atau IB dapat dilakukan 2 kali pada 48 jam dan 72 jam setelah CIDR dicabut;
2) Kombinasi CIDR dengan PGF2a. Untuk ternak sapi dara implantasi CIDR ke dalam vagina pada H-0 (hari-0), pada H-6 (hari-6) suntik PGF2a (7,5 mg/ekor) dan cabut CIDR pada H-10 selanjutnya di IB pada H-12 (hari-12) atau 50 jam setelah pencabutan CIDR. Untuk ternak sapi potong dan perah, implantasi CIDR ke dalam vagina pada H-0 (hari-0), pada H-6 (hari-6) suntik dengan PGF2a, cabut CIDR H-7 (hari-7) selanjutnya ternak di IB pada H-9 (hari-9).
Untuk kelancaran dan efektifitas pelaksanaan sinkronisasi birahi pada ternak sapi yang diterapkan pada Poktan ternak sapi, perlu sistem penanganan yang aman dan mudah dilaksanakan. Tidak saja peralatan inseminasi tersebut harus bersahabat dengan ternak sapi, juga harus mudah digunakan oleh pelaksananya.
Editor : Yusran Yahya
Sumber : www.tabloidsinartani.com dengan kontributor : Inang Sariati
Previous
Next Post »
Post a comment
Thanks for your comment