#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Pemanfaatan Limbah Pabrik Gula: Serat Tebu sebagai Pengganti Semen

DIOLUHTAN-suluhtani. Pertanian adalah mengelola sumberdaya alam yang ada dengan memanfaatkan energi matahari. Pertanian itu luas karena mencakup kegiatan pertanian itu sendiri, perikanan, perkebunan, perhutanan, dan peternakan. Walaupun dalam perkembangannya, pembangunan di sektor industri dan pemukiman penduduk diutamakan, namun belum bisa menggeser sektor pertanian di Indonesia, karena disaat sektor industri dan pembangunan pemukiman penduduk gencar di bangun, sektor pertanian pun juga mengalami perkembangan yang signifikan. Terbukti dengan adanya peningkatan produksi dari berbagai sub sektor pertanian, sehingga permintaan dapat di penuhi dari luar negeri maupun dalam negeri. Saat ada peningkatan produksi tentunya limbah dari sisa hasil pertanian juga ikut meningkat. Limbah dari sisa hasil pertanian atau limbah pertanian secara garis besar di bagi menjadi limbah pertanian pra panen, limbah pertanian panen, limbah pertanian pasca panen, serta limbah industri pertanian. Dan ada beberapa pemanfaatan limbah dari berbagai sektor pertanian.
Memanfaatkan Limbah Pabrik Gula
Mengusung inovasi beton geopolimer, tiga mahasiswa Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil memanfaatkan serat tebu sebagai pengganti semen. Melalui terobosan barunya tersebut, didapatkan hasil kuat tarik beton yang melebihi beton konvensional. 
Tiga mahasiswa Departemen Teknik Sipil ITS gondol juara pertama Green Concrete Competition (Humas ITC) 

Salah satu anggota tim, Dzikrie Fikrian Syah menjelaskan, dipilihnya serat tebu sebagai pengganti semen dengan pertimbangan bahan bakunya mudah didapatkan. Selain itu, kerapatan massa yang rendah membuat serta tebu ini lebih mudah untuk diolah. “Kami ingin bisa memanfaatkan limbah pabrik gula, terlebih karena kuat tarik dari serat tebu ini ternyata cukup tinggi dan juga tahan karat,” ungkaprnya.
Proses pengujian beton yang menggunakan serat tebu sebagai pengganti semen (Humas ITC)

Tergabung dalam Tim Sang Makarya, Dzikrie bersama kedua temannya, M Rifat Hidayat dan Verdi Arya Rahaditya membuat beton dengan mencampur pasir, kerikil dan fly ash di mesin pengaduk beton. Setelah itu, mereka menambahkan larutan aktivator ke dalam campuran tersebut. “Aktivator ini kami buat dengan melarutkan natrium silikat dan natrium hidroksida di wadah nonlogam,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, serat tebu kemudian ditambahkan dengan perbandingan bahan yakni satu persen fly ash; dua persen kerikil; 0,86 persen pasir; 1,43 persen NaOH; 0,17 persen NaSiO3; dan 0,26 persen serat tebu. “Proses pembuatan sampai pencetakan beton ini memakan waktu lima belas menit, sedangkan proses perawatan dilakukan sejak beton berumur satu hari sampai 28 hari,” ujar mahasiswa penggemar olahraga futsal ini.
Usai beton tersebut jadi, imbuh Dzikrie, dilakukan pengujian kuat tekan dan kuat tarik. Dari pengujian tersebut, kuat tariknya dihentikan saat mencapai 42,5 MPa. Sedangkan kuat tekannya sebesar 14,2 MPa, di mana beton konvensional seharusnya sudah gagal di 4,25 MPa. “Hal ini menunjukkan bahwa kuat tarik beton dari bahan serat tebu tersebut di atas dari beton konvensional yang terbuat dari semen,” tegas mahasiswa asal Jombang itu.
Selain itu, dari hasil penelitian yang telah meraih juara satu pada ajang Civil Days yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang tersebut, dihasilkan susut beton yang terbilang kecil. Menurutnya, hal itu dikarenakan beton geopolimer adalah beton dengan kekuatan awal tinggi, yakni sekitar 70 persen kekuatan beton tercapai di umur satu hari. “Semoga segera ditemukan metode mix design beton geopolimer agar dapat diterapkan di konstruksi bangunan,” paparnya.
Editor: Y.A.Yahya
Sumber:  Humas ITS

Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment