#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Sampah Plastik, Senjata Penghancur Masa Depan Bumi

DIOLUHTAN-suluhtani. Bahaya sampah plastik semakin dipahami banyak orang. Keberadaan sampah plastik terbukti mengancam keberlangsungan bumi di masa mendatang. Perlu upaya bersama menghentikan produksi sampah plastik
Salah satu upayanya dengan penerbitan aturan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. Selain itu, lembaga swasta yang diinisiasi oleh lembaga non Pemerintah, juga berkampanye untuk menghentikan produksi sampah plastik. 

Agar lebih efektif, perusahaan swasta yang menjadi produsen sampah plastik, didorong terlibat langsung dengan cara meninjau ulang kemasan produk yang umumnya dari plastik. Dan mengelola sampah plastik dari produknya dari masyarakat dan mendaur ulang untuk kemasan baru
Dalam laporan Greenpeace tahun 2018 berjudul “Sebuah Krisis Kenyamanan”, dunia bisnis menjadi salah satu penyumbang produksi sampah plastik di Indonesia. “Bisnis perusahaan barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods) termasuk produk makanan, tumbuh sebesar 1-6 persen per tahun. Ini artinya volume sampah kemasan plastik akan terus bertambah,” ungkap Atha, Pengampanye Greenpeace Indonesia
Karena tingkat daur ulang yang sangat rendah, lanjutnya, maka harus ada tindakan nyata dari produsen dan Pemerintah untuk mengendalikan suplai plastik sekali pakai. Dengan cara menerapkan ekonomi sirkuler yaitu konsep penggunaan kembali (reuse). Konsep tersebut, diyakini bisa mengurangi sampah plastik di seluruh Indonesia, terutama Jakarta.
Produsen Besar
Pentingnya Pemerintah untuk mengambil tindakan, karena Indonesia tercatat sebagai negara produsen sampah plastik yang sangat tinggi di dunia. Data Bank Dunia tahun 2018 menyebutkan Indonesia menghasilkan 60 juta ton sampah, 15 persennya merupakan sampah plastik yang membanjiri daratan dan akhirnya bermuara ke lautan Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 87 kota pesisir di Indonesia diketahui menjadi penyumbang 2 juta ton sampah plastik ke laut. Fakta ini harus menjadi perhatian semua pihak, terutama Pemerintah.
Sebagai informasi, setiap harinya Jakarta menghasilkan 2.520 monster plastik seperti itu dari sampah yang dihasilkan oleh masyarakat.
Pandu Laut, komunitas peduli laut yang digagas Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, menjadi salah satu komunitas yang ikut bersuara. Ketua Harian Pandu Laut Prita Laura (mantan penyiar salah satu TV swasta) mengatakan pihaknya mengajak masyarakat umum mendeklarasikan komitmen anti sampah dalam keseharian.
Komitmen tersebut, misalnya adalah menolak kantong kresek sekali pakai, menolak sedotan plastik, memilih produk curah ketimbang sachet, memilah sampah di rumah, dan membersihkan sampah plastik layak daur ulang sebelum membuangnya. Semua tindakan tersebut lebih efektif dan berdampak besar karena langsung dilakukan masyarakat sebagai pengguna plastik.
Menurut Prita, masyarakat perlu disadarkan bahwa gaya hidup keseharian ternyata menghasilkan sampah yang besar dan akumulasinya telah nyata mengancam bumi. Sehingga perlu partisipasi masyarakat menghentikan produksi plastic dan sebarannya. “Masing-masing kita punya senjata masing-masing untuk mengalahkannya, jika Pemerintah senjatanya adalah kebijakan, maka kita sebagai masyarakat senjatanya adalah mengubah gaya hidup yang tidak menggunakan plastik sekali pakai,” ucap dia.
Beberapa komunitas dan LSM lingkungan akhirnya membuat deklarasi bersama yaitu pertama, mendesak Pemerintah untuk melarang plastik sekali pakai dan memberlakukan secara nasional. Kedua, mendesak Pemerintah untuk memperbaiki sistem tata kelola sampah, berupa penegakkan sistem pemilahan dari sumber hingga akhir, dan mendukung kemasan dalam negeri yang pro lingkungan, pro kearifan lokal, dan bebas plastik.
Ketiga, mendesak kepada produsen dan pelaku usaha untuk bertanggung jawab atas sampahnya dengan cara mengambil kembali sampah kemasan yang dihasilkannya, berinovasi dalam merancang kemasan plastik agar lebih mudah dipakai ulang, dan berinovasi dalam sistem pengiriman produk agar tidak mengandalkan plastik.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti beberapa waktu lalu pada kesempatan tersebut juga menyampaikan bahwa isu sampah plastik harus ditangani secara serius oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah. Karena sampah plastik yang bermuara di lautan Indonesia pada akhirnya dimakan ikan-ikan dan kemudian ikan akan dikonsumsi oleh manusia. “Nanti kita makan ikan yang isinya plastik. Nanti juga nelayan lebih banyak nangkap plastik daripada ikan. Padahal kan ikan merupakan sumber protein yang mudah didapat,” tuturnya.
Plastik Sekali Pakai
Untuk itu, Susi mengajak kepada semua pihak di seluruh Tanah Air berpartisipasi dalam pengurangan sampah plastik. Cara yang paling mudah dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “Mari kita mulai dari diri kita. Janji tidak mau lagi pakai kresek, sedotan plastik, botol plastik sekali pakai, dan kemasan saset,” ujarnya.
Sebagai gantinya, Susi menyarankan penggunaan produk ramah lingkungan, seperti tas kain dan botol minum (tumblr). Hal itu, selain menghentikan produksi sampah plastik, juga membangkitkan ekonomi kerakyatan dari produksi yang ramah lingkungan. “Minum juga tidak usah pakai sedotan kayak baby, kan malu. Kecuali sedotannya bawa sendiri yang dari logam, bambu, atau kertas,” ucapnya.
Sampah Botol Plastik (dok)

Agar cepat terbiasa hidup anti plastik, Susi mendorong seluruh institusi Pemerintah segera menerbitkan peraturan pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Upaya tersebut, sudah dilakukan sejumlah Pemerintah Provinsi dan Kota/Kabupaten. “Sekarang, pemerintah Bali dan Banjarmasin sudah melarang pemakaian plastik sekali pakai. Namun, plastik masih begitu banyak. Apalagi kalau kita tidak mengurangi dan melarangnya,” tandasnya.
Selain masyarakat dan Pemerintah, Susi juga mendorong agar industri turut mendukung misi pengurangan plastik sekali pakai. Ia berharap agar perusahaan-perusahaan yang masih menggunakan plastik sekali pakai dapat menarik kembali dan mengolah sampah plastik yang sudah dikumpulkan oleh masyarakat. “Kalau bisa ditarik kemudian dikelola. Mereka buat institusi apa supaya asosiasi ikut bertanggung jawab. Jadi, kita bersama-sama memeranginya. Bukan cuma masyarakat saja tapi produsernya juga berpikir seperti itu,” sebutnya.
Sementara, pendiri Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira menjelaskan, plastik sekali pakai adalah monster yang sangat jahat dan bisa mengancam keberlanjutan bumi. Walau saat ini produksi plastik nasional masih di bawah 10 persen, namun ternyata plastik sekali pakai mendominasi sebagai penyumbang polusi di laut. “Ironisnya plastik adalah materi kuat yang tahan ratusan tahun, tapi malah dirancang untuk dipakai hanya 30 menit lalu dibuang. Ini tidak masuk akal, dan ini harus disudahi,” tambahnya.
Editor: Y.A.Yahya
Source:  www.mongabay.co.id dengan judul: Plastik Sekali pakai, Senjata penghancur masa Depan Bumi

Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment