#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Waspada Penyakit Kecacingan pada Hewan

DIOLUHTAN. Siklus hidup cacing adalah cacing ditularkan pada waktu ternak memakan rumput atau meminum air yang terkontaminasi atau tercemar oleh ternak lain dengan telur cacing. Bisa juga cacing disebarkan dari induk ke anaknya.
Cacing hidup di usus ternak dan memproduksi banyak telur. Masalah ini biasa terjadi pada musim hujan. Cacing memang memerlukan kondisi lingkungan yang basah, artinya cacing tersebut bisa tumbuh dan berkembang biak dengan baik bila tempat hidupnya berada pada kondisi yang basah atau lembab.
Penyuluh memberikan Demonstrasi Cara Pemberian Obat Cacing Bolus pada Sapi

Pada kondisi lingkungan yang basah atau lembab, perlu juga diwaspadai kehadiran siput air tawar yang menjadi inang perantara cacing sebelum masuk ke tubuh ternak. Dibawah ini diuraikan mengenai jenis-jenis infeksi cacing, sebagai berikut :
Infeksi C. Tambang (Ankilostomiasis)
Diagnosa dari infeksi cacing Ankilostomiasis yaitu dengan memeriksa tinja, gejala diare berdarah, penurunan aktifitas system imunitas, hingga anjing mudah menderita parvovirus, hepatitis, dan distemper (Subronto., 2006).
Infeksi C. Gelang (Askariasis)
Riwayat kennel maupun cattery tempat penderita tumbuh dapat digunakan sebagai pegangan dalam penentuan diagnosis antara lain berupa batuk, pilek, anoreksia, diare, perut membesar, menggantung, dan konvulsi. Diagnosis pasca mati, seperti perdarahan sub mukosa akibat larva ditemukan pada paru-paru dan hati. Untuk hewan dewasa diagnosis cacingan oleh ketiga jenis ini dapat ditemuka didalam spesimen (Subronto., 2006).
Infeksi Cacing Pipih (Dypilidium caninum)
Rasa gatal di daerah anus, menggosok-gosokkan bagian gatal tersebut serta berjalan dengan tubuh tegak, adanya segmen cacing di tempat tidur, proglotid berupa trapezoidal berbeda dari segmen taenia yang berbentuk segiempat.
Dicrocoelium dendriticum (Trematoda)
Diagnosis sepenuhnya didasarkan pada pemeriksaan telur dalam feses dan penemuan saat nekropsi (Urquhart; et.all. 1996).
Paramphistomum cervi dan Paramphistomum microbothrium (Tremaoda)
Diagnosis didasarkan pada gejala klinis yang kadang-kadang menyangkut hewan muda di peternakan dan sejarah rumput disekitar habitat keong selama periode musim panas. Pemeriksaan feses sedikit penting sejak penyakit terjadi selama periode prepatent. Penegasan dapat diperoleh dari pemeriksaan posmortem dan penemuan kembali cacing kecil dari duodenum (Urquhart; et.all. 1996).
Taenia saginata (Cestoda)
Diagnosisnya disebutkan bahwa dari tiap negara memiliki penanggulangan yang berbeda-beda. Biasanya dilakukan pemeriksaan muskulus maseter, lidah, jantung, muskulus intercostalis dan muskulus triceps (Urquhart; et.all. 1996).
Cooperia (Nematoda)
Diagnosis : Gejala klinis yang ditimbulkan, turunnya berat badan dan diare. Sejarah rumput jumlah telur dalam feses. Penyakit tipe I sering ada lebih dari 1000 telur per gram dan berguna untuk diagnosis awal, tipe I jumlahnya berubah-ubah, kadang tinggi, negatif dan jumlahnya terbatas.
Pemeriksaan post-mortem. Abomasum berbau busuk dikarenakan adanya akumulasi bakteri dan tingginya pH. Cacing dewasa berwarna kemerahan dan panjangnya 1 cm, dapat dilihat dengan pemeriksaan yang teliti pada permukaan mukosa (Urquhart; et.all. 1996).
Strongyloides (Nematoda)
Diagnosisnya, sedikit atau banyaknya telur yang dapat dalam feses belum tentu hewan tersebut terjangkit cacing Strongyloides (Urquhart; et.all. 1996). 
Demikianlah beberapa diagnosa penyakit kecacingan pada hewan, Juga beberapa kondisi lingkungan yang mendukung penyebaran cacingan bahkan binatang lain seperti siput air tawar yang menjadi inang perantara cacing sebelum masuk ke tubuh ternak. Semoga bermanfaat.
Source : Y.A. Yahya
REFERENSI
Subronto., 2006. Penyakit Infeksi Parasit & Mikroba Pada Anjing & Kucing. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sumartono. 2001. Parasitologi Umum. Yogyakarta: Bagian Parasitologi FKH UGM.
Urquhart G.M., Armour J., Duncan J.L., Dunn A.m., and Jennings F.W. 1996. Veterinary Parasitology 2nd Edition. ELBS, England.
Previous
Next Post »
Post a comment
Thanks for your comment