#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Perihal Gerakan Pelestarian Lingkungan



Gerakan pelestarian lingkungan sudah sejak lama dikumandangkan. Gebrakannya timbul tenggelam. Tidak pernah konsisten berapi-api tetapi juga tidak pernah menghilang sama sekali. Kalau ada transfusi ‘dana segar’ maka gelora dan teriakannya benar-benar membahana, menggetarkan langit dan bumi, bahkan penghuni surga pun mungkin dibuat terkejut. Tetapi kalau dana segar tidak ada, para penggerak tiba-tiba karena sesuatu hal tidak bisa mengajak teman-temannya, atau negara tidak terlalu mendukung karena alasan ekonomi dan lain sebagainya, gerakan ini menghilang dari panggung utama, walau mungkin tetap bermain pada panggung yang lebih kecil dan tersembunyi.

Gerakan ini tentu saja penting dan tidak apa-apa jika ada dan jumlahnya banyak. Mengapa? Karena sebagai selingan kegiatan ini merupakan selingan kegiatan yang menarik untuk disimak, diperhatikan, diapresiasi, atau bahkan jika perlu ya diikuti. Hanya saja jika paradigma berpikir utama yang menjadi landasan gerakan ini tidak dibenahi maka seperti yang menjadi salah satu pemikiran dalam catatan yang dibuat ini, akan ada banyak tindakan yang kurang pas.
Pelaku utama pelestari lingkungan sebenarnya berada di desa. Adalah orang-orang desa yang tahu persis bagaimana lingkungan harus dilestarikan. Mungkin mereka tidak mendapat kesempatan mengikuti pendidikan yang memadai, tetapi adakah ruang kelas atau ruang kuliah yang lebih hebat dari alam sendiri? Pendidikan terbaik ada di alam. Bahkan guru terbaik pun alam sendiri. Bukan yang lain.
Orang desa yang lugu dan sederhana jika ditanya apakah mereka sudah melestarikan lingkungan mungkin akan melengak dan menatap kembali pada si penanya. Bukannya tidak memahami makna pertanyaan itu cuma mungkin merasa aneh saja mengapa pertanyaan semacam itu dapat terlontar? Pada mereka lagi? Mereka mungkin tidak merasa melestarikan lingkungan dan segala macam sebutan lainnya, tetapi yang jelas mereka tidak pernah mengambil dari alam secara berlebihan. Yang diambil hanyalah sebatas yang diperlukan. Tidak pernah lebih dari itu. Dan alam dengan senang hati menyediakan keperluan yang diperlukan itu. Alam mungkin seperti ‘dirusak’ tetapi alam menyukai itu semua karena dia dapat memulihkan dirinya sendiri tepat pada waktunya.
Itu orang desa. Sedangkan orang kota, dengan pendidikan yang memadai, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berada ditangannya, dengan slogan pelestarian lingkungan dan pembangunan berkesinambungan yang selalu dikumandangkannya, justru melakukan sebaliknya. Orang kota sepertinya ‘tidak merusak’, sepertinya sedang bergiat melestarikan lingkungan, tetapi mereka mengambil terlalu banyak hal dari alam, sehingga alam terengah-engah memulihkan dirinya sendiri dalam waktu yang cukup lama.
Lalu mana dari dua kelompok orang ini yang benar-benar telah melestarikan lingkungan? Anda semua tahu jawabnya, kan? 
sumber : green.kompasiana.com
Previous
Next Post »
Post a comment
Thanks for your comment