Tidak ada yang lebih penting dalam pergaulan umat manusia di dunia ini selain komunikasi yang bertujuan untuk menyampaikan suatu pikiran, gagasan atau ide, atau pesan dari seseorang kepada orang lain. Kita berkewajiban untuk mengupayakan segala cara untuk menggunakan semua alat yang ada agar penyuluhan menjadi efektif. media penyuluhan ini adalah salahsatu media visual yang memaparkan penyuluhan pada komoditi bidang pertanian, perikanan dan kehutanan.

Mungkinkah, Swasembada Daging 2014 dapat terwujud?



Sebuah kegelisahan masih mengintai petani kita. Gelisah antara senang dan sedih. Senang bila pemerintah benar-benar melaksanakan swasembada daging dan sedih serta sakit hati jika pemerintah mengabaikan program dan tugas mereka. Ada sedikit tulisan yang sebenarnya lebih banyak fakta mengenai swasembada daging 2014, yang sampai saat ini masih banyak orang yang meragukannya. Lalu, dimana para pemangku kepentingan apalagi suara mahasiswa khususnya peternakan sebagai pembela rakyat jelata, yang ditindas oleh penguasa yang dipercaya sebagai  penyalur aspirasi rakyat?

 Impor masih menjadi kebiasaan bangsa Indonesia. Sejak republik ini berdiri, nyaris tidak ada komoditas yang beredar di masyarakat yang tidak diimpor. Produk apa yang tidak diimpor Indonesia saat ini, nyaris tidak ada jawabannya. Bahkan Indonesia yang mengklaim sebagai negara agraris, tetap saja mengimpor sebagian besar komoditasnya, termasuk beras. Demikian pula di sektor peternakan. Hingga saat ini, untuk memenuhi kebutuhan daging sapi bagi rakyat, pemerintah masih mengandalkan impor, seperti dari Australia, Selandia Baru, bahkan Amerika Serikat dan India. Volume impor daging sapi bahkan bisa lebih dari 100 ribu ton per tahun, baik dalam bentuk sapi atau bakalan maupun daging.
Nah, saat sejumlah negara menghentikan ekspor daging sapinya ke Tanah Air, seperti pernah dilakukan Australia dan Amerika Serikat, pemerintah kita langsung kelabakan. Karena memang perbandingan populasi dan produksi daging sapi masih belum seimbang dengan kebutuhan rakyat Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa. Dengan tingkat konsumsi mencapai 1,9 kg per kapita/tahun, Indonesia setidaknya membutuhkan 480 ribu ton daging sapi pada tahun ini. Sedangkan populasi sapi potong secara nasional hanya mencapai 14,8 juta ekor, yang jika dikonversi menjadi daging konsumsi hanya memenuhi sekitar 60-70% dari kebutuhan. Artinya, sisanya harus dipenuhi dengan cara mengimpor.

Lalu, sampai kapan bangsa ini menjadi pengimpor daging sapi? Hal ini memang sudah masuk dalam rencana pemerintah. Sejak 2000 lalu, pemerintah sudah mencanangkan untuk swasembada daging. Bahkan program tersebut pernah dua kali dicanangkan, yakni pada 2005 dan 2010. Hasilnya? gagal total. Indonesia tetap mengimpor daging sapi hingga saat ini. Swasembada daging pun kembali didengungkan pemerintah dan targetnya pada 2014 nanti, Indonesia hanya mengimpor daging sapi kurang dari 10% kebutuhan nasional. Mengapa tidak semuanya dipenuhi produk lokal? Karena memang di alam perdagangan bebas dunia ini, tidak mungkin sebuah negara menghentikan impor sama sekali.

Melalui Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) 2014, secara bertahap pemerintah mengurangi impor. Jika pada 2011, impor mencapai 34,9%, tahun ini ditargetkan hanya 17,5% atau 84.740 ton. Selanjutnya pada 2013 hanya 13,8% dan pada 2014 diharapkan tinggal 9,7%. Mampukah kali ini pemerintah merealisasikan targetnya untuk swasembada daging? Ataukah hanya rencana-rencana belaka yang tidak tahu kapan realisasi swasembada dan pembuktiannya?

Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment