#SAVE PENYULUH..... #SAVE PETANI..... WUJUDKAN SWASEMBADA

#SAVE PENYULUH.....  #SAVE PETANI.....  WUJUDKAN SWASEMBADA

Pahami Zat Antinutrisi pada Pakan

DIOLUHTAN-suluhtani. Anda pasti sering mendengar istilah nutrisi yaitu segala sesuatu tentang makanan dan minuman serta asupan lainnya dalam hubungannya dengan kesehatan optimal/tubuh, namun kebanyakan orang masih awam menangani antinutrisi. Pada umumnya, pakan yang kamu berikan ke ternak mengandung berbagai nutrisi yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

Ternak seperti sapi, kambing, dan domba serta aneka ternak lainnya seperti marmut, kelinci dan sebagainya membutuhkan hijauan seperti rumput dan dedaunan untuk memenuhi kebutuhan pakannya. Sebagai makhluk hidup, tumbuhan yang dikonsumsi oleh hewan ternak juga memiliki sistem pertahanan dari gangguan luar.

Beberapa tumbuhan dapat menghasilkan senyawa tertentu untuk melindungi dirinya. Bagi tumbuhan memang menguntungkan, namun bagi ternak tentu saja merugikan. Karena dapat mengganggu kesehatan mereka. Senyawa itulah yang dinamakan dengan istilah antinutrisi.

Pada penyuluhan sederhana kali ini, mari kita bahas mengenai apa itu antinutrisi dan apa saja zat antinutrisi yang terkandung di dalam pakan ternak. 

A. Pengertian Antinutrisi

Antinurisi merupakan senyawa berbahaya yang terkandung dalam pakan hewan. Senyawa tersebut berasal dari metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tumbuhan di samping metabolit primer. Metabolit primer yang dihasilkan oleh tumbuhan berupa protein, lemak, pati, polisakarida, dan hemiselulosa.

Sedangkan metabolit sekunder yang dihasilkan adalah senyawa antinutrisi yang apabila dikonsumsi dalam jumlah lebih dapat mengganggu kesehatan ternak, seperti gangguan pertumbuhan dan tingkah laku hewan. 

B. Senyawa Antinutrisi

Beragam contoh senyawa antinutrisi yang harus kamu ketahui. Hal itu penting bagi kamu supaya dapat membuat pakan yang berkualitas. Yaitu dengan melihat gizi yang terkandung di dalam bahan pakan, maupun zat antinutrisinya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, zat antinutrisi merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tumbuhan.

Metabolit sekunder tersebut di antaranya adalah :

1. Alkaloid

Alkaloid terdiri dari kokain, kafein, morfin, heroin, nikotin, kinin, atropin, tiramin, theobromin, solanin, phylloerithrin, dan pyrrolizidine.

Theobromin merupakan zat antinutrisi yang sering ditemukan, yaitu pada kulit buah dan kulit biji kakao. Begitu juga dengan nikotin yang terkandung di dalam daun tembakau. 

 Daun Tembakau yang mengandung Theobromin

Ternak yang mengkonsumsi theobromin terlalu banyak akan mengalami kondisi kejang dan berujung pingsan, karena berefek langsung pada peningkatan frekuensi detak jantung.

Zat lainnya adalah phylloerithrin yang terkandung di dalam Lantana camara (tembelekan), dan pyrrolizidine yang terkandung di dalam Crotalaria. Pyrrolizidine dapat mengakibatkan keracunan pada ternak yang memakannya, begitu juga dengan phylloerithrin yang dapat menyebabkan fotosensitiasi dermatitis pada ternak. 

2. Coumarin

Coumarin merupakan senyawa antinutrisi yang terdapat pada tanaman sweet clover “Gliricidia maculata”. Senyawa ini bisa membuat ternak mengalami defisiensi (kekurangan) vitamin K. Karena bersifat antagonis terhadap vitamin tersebut. 

Zat Coumarin pada Daun Gamal

3. Isoflavon

Bagi tumbuhan, isoflavon berguna sebagai cadangan nutrisi. Isoflavon terdiri dari pisatin, medicagol, coumestrol, phaseolin, equol, genistein, lucernal, repensol, trifoliol, dan biokanin A yang terdapat pada rumput benggala.

Berbagai zat isoflavon tersebut dapat bisanya terkanung di dalam leguminosa. Zat-zat tersebut dapat menyebabkan kemandulan pada domba.

4. Mimosin

Senyawa mimosin bersifat toksik bagi hewan ternak. Karena dapat mengakibatkan depilasi (kerontokan bulu pada permukaan kulit). Mimosin dapat ditemukan dengan mudah pada daun lamtoro. Tingkat kandungan mimosin di dalam daun lamtoro ditentukan oleh kematangan tumbuhan tersebut.

Daun Lamtoro untuk Pakan Ternak 

5. Glikosida

Metabolit sekunder yang harus kamu ketahui selanjutnya adalah golongan glikosida, seperti flavonoid glicosides, cyanogenic glicosides (HCN atau asam sianida), thyoglicosides, dan saponin. Senyawa antinutrisi golongan glikosida yang paling sering dijumpai adalah saponin, yaitu pada tumbuhan alfalfa, kacang tanah, turi, dan daun gamal.

Kandungan Saponin pada Daun Alfalfa

Efek saponin yang ditimbulkan pada ternak adalah gangguan pencernaan. Karena menyebabkan iritasi mukosa mulut dan saluran pencernaan sehingga absorbsi terganggu. Hewan ternak yang diberikan pakan dengan kandungan saponin tinggi pertumbuhannya terhambat.

Karena tumbuhan yang mengandung saponin memiliki rasa pahit, sehingga palatabilitas pakan terganggu dan terjadi gangguan pertumbuhan. Lebih mengerikan lagi, saponin juga dapat menyebabkan abortus, kegagalan pembentukan zigot, dan kegagalan implantasi.

Namun, baru-baru ini diketahui bahwa saponin juga memiliki manfaat bagi ternak. Yaitu sebagai zat anti protozoa. Karena kemampuannya membentuk kompleks ireversibel dengan steroid pada dinding sel protozoa. Sehingga membarn sel protoza dapat hancur.

Saponin sering dimanfaatkan oleh manusia sebagai zat antivirus, antifungi (anti jamur), dan zat penurun kolesterol, serta dapat digunakan untuk menghambat sel tumor. (Yanuartono, 2017). Zat antinutrisi lain golongan glikosida adalah HCN yang terdapat pada tanaman sorgum dan ketela pohon.

Asam Sianida pada Ketela Pohon (Singkong)
 

HCN merupakan senyawa yang berbahaya, baik bagi ternak maupun manusia. Ternak yang mengkonsumsi asam sianida dengan jumlah banyak akan mengalami kematian dalam beberapa detik saja.

Related:

 

Bahkan ternak domba dengan bobot 12 kg akan mati mendadak jika mengkonsumsi pakan yang mengandung sianida 250 gram. Itu membuktikan bahwa asam sianida sangat berbahaya. Dosis aman HCN pada tumbuhan adalah di bawah 500 ppm (part per million). Kadar HCN dalam tanaman dapat dikurangi dengan perlakuan mekanis dan kimiawi, seperti pelayuan, pengeringan, dan penambahan thio sulfat.

HCN juga merupakan senyawa yang mudah larut dan menguap dengan penambahan air. Oleh karena itu, ternak yang keracunan asam sianida jika diberi air akan lebih mudah mengalami kematian.

6. Lignin dan Silika

Jika dikonsumsi terlalu banyak, dapat menyebabkan penurunan laju degradasi pada rumen ternak. Contohnya pada jerami padi (tanpa perlakuan fermentasi, amoniasi)


7. Asam Oksalat

Merupakan zat antinutrisi yang dapat ditemukan pada rumput tropika, Setaria sp, dan Indigofera spicata. Asam oksalat yang dikonsumsi secara berlebihan dapat mengalami hypocalcemia. Yaitu defisiensi calcium (Ca) dalam darah.

8. Phenol

Zat antinutrisi golongan phenol terdiri dari Gossypol (Gosipol) dan Tannins (Tanin).  Gossypol dapat ditemukan dalam biji kapas. Dapat menyebabkan keracunan karena terakumulasi ke dalam berbagai jaringan, terutama hati.

C. Kesimpulan

Zat antinutrisi pada pakan hewan merupakan sesuatu yang harus diketahui, baik oleh peternak maupun dokter hewan. Karena manajemen pakan yang baik adalah kunci sukses membangun peternakan yang sukses.

Terdapat berbagai zat antinutrisi yang terkandung dalam berbagai macam tumbuhan juga. Dengan mengetahui antinutrisi yang terkandung di dalam bahan pakan, kamu dapat menghindarkan ternak kamu dari hal yang tidak diinginkan. Semoga bermanfaat.

Yusran A. Yahya NS (Source: wikipedia dan www.vetmedicinae.com)

Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment